Januari-Oktober 2026, DBD di Pekanbaru Tercatat 745 Kasus

Redaksi - Senin, 05 Oktober 2026 19:49 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2026/10/_8320_Januari-Oktober-2026--DBD-di-Pekanbaru-Tercatat-745-Kasus.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Ilustrasi.(Foto:Idt)
kabarmelayu.com,PEKANBARU - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Pekanbaru terus mengalami peningkatan. Kondisi ini terjadi seiring peralihan cuaca dari musim panas menuju musim penghujan yang berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru mencatat sebanyak 745 kasus DBD terjadi sejak Januari hingga awal Oktober 2026.

Dari ratusan kasus tersebut, Kecamatan Tuah Madani menjadi wilayah dengan kasus DBD terbanyak, yakni mencapai 117 kasus.

Selanjutnya Kecamatan Marpoyan Damai dengan 109 kasus, disusul Kecamatan Bukit Raya sebanyak 82 kasus.

Diskes Pekanbaru juga mencatat, dari total kasus tersebut terdapat tiga warga yang meninggal dunia. Masing-masing merupakan warga Kecamatan Tuah Madani, Kecamatan Sail, dan Kecamatan Kulim.

Sekretaris Diskes Kota Pekanbaru, Dedy Sambudi, mengatakan masyarakat perlu mewaspadai gejala DBD, terutama saat mengalami demam tinggi.

"Mungkin awalnya dikira demam biasa, tetapi akhirnya demam tinggi. Setiba di rumah sakit mengalami penurunan trombosit sehingga kondisi sangat lemah," kata Dedy, Senin (5/10/2026).

Menurutnya, peralihan cuaca dari panas ke hujan perlu menjadi perhatian. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti yang menjadi vektor penular DBD.

Karena itu, Dedy mengingatkan masyarakat untuk memastikan tidak ada genangan air di sekitar rumah yang bisa menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk.

Genangan air, kata dia, tidak hanya terdapat di tanah. Berbagai barang di sekitar rumah juga bisa menjadi tempat menampung air hujan dan kemudian menjadi lokasi berkembangnya jentik nyamuk.

"Genangan ini yang memicu jentik nyamuk Aedes aegypti berkembang," terang Dedy.

Untuk mencegah kasus DBD terus meningkat, warga diajak kembali mengintensifkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus.

Upaya tersebut dilakukan dengan menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat tempat penyimpanan air, serta mengubur atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menjadi tempat penampungan air.

Warga juga diminta lebih memperhatikan barang-barang yang berada di sekitar rumah, terutama yang berpotensi menampung air hujan, seperti ban bekas, kaleng, dan ember.

Langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk mencegah munculnya jentik nyamuk dan memutus rantai penularan DBD di tengah perubahan cuaca.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Riau Mulai Masuk Peralihan ke Musim Hujan

Kesehatan

Diguyur Hujan, Kualitas Udara Pekanbaru Pulih

Kesehatan

Satgas Kahurtla TNI Gelar Salat Istisqo, Hujan Deras Mengguyur

Kesehatan

447 Hotspot Terpantau, Hujan Berpotensi Terjadi di Sejumlah Wilayah Riau

Kesehatan

Riau Berpotensi Hujan Ringan Siang Hingga Malam

Kesehatan

Rentang Januari-Juli 2026, DBD di Pekanbaru Tembus 534 Kasus, Satu Meninggal