Herbal Juga Bisa Berbahaya

Harijal - Kamis, 16 Februari 2017 11:20 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2017/02/e2a93a022017_herbal_bahaya.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171

JAKARTA - Selain obat-obatan medis, ternyata banyak orang yang mengonsumsi suplemen herbal. Apakah ini lebih aman untuk kesehatan?

Ramuan obat herbal yang diracik dari dedaunan tanaman, kulit kayu, buah, bunga, dan akar-akaran wangi telah digunakan sejak zaman nenek moyang untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Namun, peredaran suplemen herbal tidak diatur seketat obat-obatan medis oleh BPOM.

Lantas, apakah obat herbal aman dikonsumsi?

Menurut Prof. Maksum Radji, Guru Besar Tetap Ilmu Farmasi Universitas Indonesia, agar sebuah obat herbal bisa dinyatakan aman, produk tersebut haruslah terlebih dulu dibuktikan secara ilmiah keamanannya melalui serangkaian uji klinis, antara lain uji toksisitas akut, uji toksisitas sub-akut, uji toksisitas kronik, dan uji teratogenik, dilansir dari Kompas. Obat herbal juga harus diuji dosis, cara penggunaan, efektivitas, monitoring efek samping, dan interaksinya dengan senyawa obat lain.

Sayangnya, kebanyakan obat herbal yang beredar di Indonesia tergolong dalam kategori jamu dan OHT (Obat Herbal Terstandar). Keduanya merupakan jenis obat tradisional yang belum terbukti keamanannya berdasarkan uji klinik. Khasiat OHT hanya dapat dibuktikan sejauh eksperiman pada hewan lab.

Hasil percobaan praklinik inilah yang seringkali dijadikan dasar bahwa obat herbal dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Sementara itu, jamu yang biasanya menggunakan rebusan kombinasi rempah dan variasi resep turun temurun tidak memiliki dosis dan indikasi yang pasti.

Dr. Peter Canter dan Prof. Edzard Ernst dari Peninsula Medical, dilansir dari The Telegraph, mengungkapkan bahwa sampai sejauh ini bukti klinis kuat yang dapat membuktikan efektivitas jamu dan obat herbal untuk menyembuhkan penyakit masih sangat terbatas. Dan karena potensi efek samping dicurigai lebih besar dari manfaatnya, kurangnya bukti medis ini dapat diartikan bahwa penggunaan obat herbal tidak direkomendasikan.

Tak semua orang boleh minum jamu dan obat herbal

Meski terbuat dari bahan alami, semua rempah juga mengandung senyawa kimia yang berpotensi menimbulkan risiko efek samping merugikan. Sebagai contoh, jamu temulawak. Temulawak diklaim ampuh sebagai obat peningkat nafsu makan dan mengatasi sembelit, namun tak banyak yang tahu bahwa temulawak memiliki sifat pengencer darah yang bisa menyebabkan perdarahan ginjal akut pada penderita penyakit hati.

Risiko efek samping juga mungkin termasuk dari produk impor yang terkontaminasi dengan bahan kimia pertanian atau organisme asing lain selama proses pembuatan di negara asalnya. Misalnya, obat-obatan herbal yang diragukan kesegaran dan kualitasnya berpotensi mengandung jamur Amanita phaloides yang memproduksi aflatoksin yang bisa merusak hati.

 

sumber: riaupos.co

 

Berita Terkait

Kesehatan

Diduga Rp500 Juta untuk Cari Proyek Pemerintah, Kini Muncul Permintaan Rp1,3 Miliar

Kesehatan

Syiar Dakwah, Azwendi Fajri Dukung Penuh Bengkel Da'i

Kesehatan

Soal Konflik Lahan di Rupat, Pemkab Bengkalis Buka Audiensi dengan Masyarakat

Kesehatan

Kemendukbangga/BKKBN RI dan Komisi IX DPR RI Ajak Masyarakat Kampar Melek Isu Keluarga dan Stunting

Kesehatan

Legislator PKS Minta 30 Korporasi Karhutla Ditindak Tegas

Kesehatan

Ekosistem Kendaraan Listrik Didorong Tak Berhenti di Pabrik