Fenomena El Nino, Salju Abadi di Puncak Jaya Wijaya Mencair dan Terancam Punah

Harijal - Senin, 28 Agustus 2023 22:08 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2023/08/c67ff6082023_untitled9.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Puncak Jayawijaya, gunung salju abadi papua (Carstensz Pyramid)/(Situs Satpol PP Provinsi Papua)

JAKARTA - Salju Abadi di Puncak Jaya Wijaya, Pegunungan Cartenz, Papua dilaporkan tengah mengalami pencairan dan menuju kepunahan.

Dilansir dari Papua Times, Salju abadi di Puncak Jaya Wijaya mencair ini dikabarkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati dalam seminar "Salju Abadi Menjelang Kepunahan: Dampak Perubahan Iklim?" di Jakarta pada Selasa, (22/08/2023).

Menurut Dwikorita, kondisi mencarinya salju abadi di Puncak Jayawijaya, Pegunungan Cartenz, Papua itu diakibatkan oleh dampak perubahan iklim dan pemanasan global yang terjadi di seluruh dunia. Hal ini bisa terjadi di tahun 2026.

Diketahui, seiring perubahan iklim yang terjadi di dunia, pada tahun 2015 lalu, terdapat penurunan ketebalan es sebanyak satu meter per tahunnya.

Kondisi semakin memburuk di tahun 2015 hingga 2016, dengan Indonesia dilanda oleh El Nino (Pemanasan suhu muka laut), sehingga suhu permukaan menjadi lebih hangat dan mengakibatkan gletser mencair hingga lima meter per tahunnya.

Dilansir dari Detik, Dwikorita menyebutkan fenomena El Nino kembali terjadi di tahun ini, yang berpotensi mempercepat mencairnya es salju abadi di Puncak Jaya. Hal itulah yang memiliki dampak besar bagi berbagai aspek kehidupan di wilayah tersebut.

“Fenomena El Nino tahun 2023 ini berpotensi untuk mempercepat kepunahan tutupan es Puncak Jaya,” ucap Dwikorita.

"Ekosistem yang ada di sekitar salju abadi menjadi rentan dan terancam. Perubahan iklim juga berdampak pada kehidupan masyarakat adat setempat yang telah lama bergantung pada keseimbangan lingkungan dan sumber daya alam di wilayah tersebut," lanjut Dwikorita.

Diketahui, per tahun 2015 hingga 2022, penurunan es semakin terus terjadi. BMKG mencatat bahwa pada periode itu, ketebalan es mencair sebanyak 2,5 meter per tahun, dan diperkirakan yang tersisa pada ketebalan es di Desember 2022 itu hanya 6 meter. Sehingga muncul kekhawatiran salju abadi di Puncak Jayawijaya Papua akan mencair dengan cepat dan hilang pada sekitar tahun 2025-2027.

Terdapat beberapa penyebab dari mencairnya es tersebut seperti adanya peningkatan tinggi pada permukaan laut secara global. Oleh karena itu, perlu dilakukannya upaya mitigasi pada perubahan iklim yang dapat dilakukan dengan pengurangan emisi gas rumah kaca dan membangun energi terbaru, sebagai langkah penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Namun, upaya itu tidak bisa dikerjakan sendiri. Dibutuhkan adanya kemauan dan kesadaran dari seluruh pihak yang saling bekerja sama untuk melakukan aksi-aksi nyata dalam melakukan mitigasi perubahan iklim yang terjadi di dunia, khususnya di Indonesia.

sumber

Berita Terkait

Kesehatan

Siswa SMAN 8 Pekanbaru Bawa Pulang Emas dan Perunggu Olimpiade Nasional POSI IPB

Kesehatan

Korban Tewas Akibat Gempa Venezuela Sudah Hampir 1.000 Orang

Kesehatan

Bhabinkamtibmas Polsek Kandis Optimalkan Pengelolaan Budidaya Jagung Bersama Kelompok Tani Jambai Makmur

Kesehatan

Kemenhan Akui 5 Calon Manajer Kopdes dan KNMP Meninggal Saat Latsarmil

Kesehatan

Siap Berlaga, Utusan Bengkalis pada MTQ ke-44 Riau di Kuansing Tuntas Registrasi Ulang

Kesehatan

Bupati Inhil Hadiri Malam Ta’aruf dan Pelantikan Dewan Hakim MTQ Ke -44 Tingkat Provinsi Riau 2026