Racun Siput, Temuan Unik Obati Penderita Diabetes

Harijal - Kamis, 12 Januari 2023 11:27 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2023/01/f859e2012023_untitled10.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Racun Siput Bisa Obati Penderita Diabetes (Sumber: Pexels/daniel-torobekov, Jon G. Fuller-VWPics-Alamy Stock Photo)

HIDANGAN seafood kerap menyajikan olahan siput yang menggugah selera. Tak heran jika mengolah hidangan eksotis ini perlu ketelitian dalam memilih jenis siput hingga cara memasaknya. Salah-salah mengonsumsi siput tertentu tak menutup kemungkinan bisa keracunan.

Di balik siput yang beracun, Para ilmuwan justru membuat penemuan unik. Racun siput bisa obati penderita diabetes atau pengidap tingginya kadar gula dalam darah. Jika penderita diabetes harus rutin menerima suntikan insulin, insulin ini bisa disediakan dalam racun siput kerucut yang kerap ditemukan di laut. 

Para peneliti di University of Utah di AS telah memetakan fungsi insulin siput kerucut. Mereka selangkah lebih dekat untuk mengembangkan insulin yang bekerja lebih cepat untuk mengobati diabetes. 

"Siput ini telah mengembangkan strategi untuk menyerang dan menaklukkan mangsanya dengan 200 senyawa berbeda, salah satunya adalah insulin," kata Helena Safavi-Hemami, asisten profesor di University of Utah.

Seperti apa kandungan di dalam racun siput kerucut hingga bisa obati penderita diabetes? Berikut Liputan6.com merangkum penemuan unik ini melansir dari Scientific America, Kamis (12/1/2023).

Gantikan Peran Obat Insulin

Insulin merupakan hormon yang diproduksi oleh pankreas untuk mengatur gula darah, terdiri dari dua segmen yang disebut rantai A dan B.

Gugus B membentuk dimer dan heksamer yang memungkinkan pankreas menyimpan hormon untuk digunakan nanti. Segmen ini juga diperlukan untuk mengaktifkan reseptor insulin yang memberi sinyal pada tubuh untuk mengambil gula dari darah.

Insulin harus mengalami beberapa kali konversi menjadi de cluster sebelum dapat menurunkan gula darah. Seseorang dengan diabetes tipe 1 tidak dapat memproduksi insulin dan membutuhkan suntikan setiap hari untuk mengelola gula darahnya. 

Para peneliti memeriksa fungsi tujuh urutan insulin yang ditemukan dalam racun dari tiga spesies siput kerucut geografis (Conus geographus), Conus tulipa dan Conus kinoshitai. Ketiga siput ini punya warna cangkang yang menarik tapi juga punya racun mematikan.

Beda Siput Kerucut Beda Kadar Insulin

Para peneliti sedang menyelidiki lebih lanjut keamanan dan stabilitas dari racun siput kerucut laut ini. Pasalnya Safavi dan Hemami menemukan fakta bahwa siput kerucut punya jenis dan kadar insulin yang berbeda untuk manusia. 

“Spesies siput kerucut yang berbeda memiliki koktail racun yang berbeda, kemungkinan besar termasuk jenis insulin unik dan molekul berharga lainnya. Dengan racun yang terbuat dari ribuan zat, siput kerucut memiliki banyak hal untuk ditawarkan jika kita terus mencarinya dengan cermat,” kata Safavi-Hemami. 

Tak disangka, setiap spesies memproduksi insulin dengan struktur yang sedikit berbeda. Terlepas dari perbedaan ini, setiap insulin bekerja cepat karena tidak memiliki bagian lengket rantai B yang ditemukan pada insulin manusia.

Lebih Kuat dari Insulin Manusia

Tim menguji bagaimana masing-masing urutan insulin menurunkan gula darah pada ikan zebra dan tikus. Hewan model diobati dengan streptozotocin untuk menginduksi gejala diabetes tipe 1 sebelum hewan diberi insulin sintesis yang berbeda.

Menggunakan garis sel, mereka menemukan urutan insulin siput kerucut mampu mengikat dan mengaktifkan reseptor insulin manusia, meskipun kehilangan bagian dari rantai B yang ditemukan pada insulin manusia. Urutan ini, bagaimanapun, adalah 10 sampai 20 kali lebih kuat daripada insulin manusia.

"Evolusi mungkin menjadi kekuatan pendorong untuk meningkatkan keragaman molekul dari molekul toksin yang digunakan spesies siput kerucut untuk berburu mangsa," kata Danny Hung-Chieh Chou, asisten profesor di University of Utah.

(liputan6.com)

Berita Terkait

Kesehatan

Musrenbang RKPD 2027 Pemprov Riau, Hendry Munief Beri Catatan Penting

Kesehatan

Bupati Inhil Bangun Pasar Induk Yos Sudarso yang Megah, Pedagang Pasar Subuh Pindah ke Lokasi Baru

Kesehatan

Dua Petinju Pekanbaru Sabet Medali Emas Kejuaraan Danlanud Bangka Belitung ‎

Kesehatan

RSUD Arifin Achmad Berhasil Tangani Kasus Menouria Langka, Pasien Kini Dapat Haid Normal

Kesehatan

Musrenbang RKPD Riau 2027, DPRD: Tahun Depan Kembali Normal

Kesehatan

Panglima TNI Hadiri Pelantikan Menteri dan Pejabat Pemerintah Kabinet Merah Putih