Studi: ASI Terbukti Manjur Bunuh Covid-19

Harijal - Senin, 28 September 2020 16:14 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2020/09/7fec0b092020_untitled5.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(Foto : Ausmed)
Studi buktikan ASI bisa mencegah dan bunuh Covid-19

Studi mengenai obat Covid-19 terus dilacak para peneliti di seluruh dunia. Hasil penelitian terbaru menjelaskan bahwa air susu ibu (ASI) dapat mencegah bahkan mengobati Covid-19.

Menurut laporan South China Morning Post, tim peneliti di Beijing baru-baru ini menguji efek ASI pada sel yang terpapar virus SARS-CoV2 penyebab Covid-19. ASI dikumpulkan pada 2017, jauh sebelum wabah menyerang. Jenis sel yang diuji bervariasi, mulai dari sel ginjal hewan hingga sel paru-paru dan usus manusia berusia muda.

Hasil penelitian menjelaskan, sebagian besar strain virus yang hidup berhasil dibunuh oleh ASI. Penjelasan ilmiahnya, ASI memblokir lampiran virus yang masuk ataupun replikasi virus. Penelitian ini dipimpin Profesor Tong Yigang dari Universitas Teknologi Kimia Beijing.

Jadi, Tong dan koleganya mencampurkan beberapa sel sehat ke dalam ASI manusia, kemudian mencuci ASI dan mengekspos sel tersebut ke virus. Para peneliti lalu mengamati sel tersebut dan dikatakan bahwa hampir tidak ada pengikatan atau masuknya virus ke sel-sel tersebut.

Begitu juga dalam proses pengobatan, sel ASI tersebut bahkan menghentikan replikasi virus dalam sel yang sudah terinfeksi. Dari hasil tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa infeksi dapat dihambat ASI yang sebelumnya telah diketahui memiliki efek menekan bakteri dan virus seperti HIV.

Tom dan koleganya mencurigai virus corona sensitif terhadap beberapa protein antivirus yang ada di dalam ASI, seperti misalnya laktoferin, tetapi tidak menemukan satu pun protein yang bekerja seperti yang diharapkan. Sebaliknya, para peneliti mengatakan bahan yangpaling disukai untuk menghambat virus adalah whey, yang mengandung protein berbeda.

Para peneliti menjelaskan, air susu perah sapi dan kambing mampu menekan strain virus hidup sekitar 70 persen. Sebagai perbandingan, efikasi whey manusia mencapai hampir 100 persen.

"ASI mampu menghilangkan virus dalam berbagai jenis sel yang lebih luas, namun tidak jelas apa yang menyebabkan perbedaan tersebut. Kami pun belum menemukan tanda-tanda bahaya yang disebabkan ASI yang mendorong proliferasi sel saat membunuh virus," kata Tong.

Beberapa orangtua diketahui menggunakan ASI sumbangan untuk memberikan makan bayi mereka, yang sering kali dipasteurisasi untuk menghilangkan potensi kontaminasi. Namun, peneliti di China menemukan bahwa memanaskan ASI hingga 90 derajat selama 10 menit malah menonaktifkan protein whey di dalam ASI. Efeknya adalah tingkat perlindungan terhadap virus corona malah turun hingga di bawah 20 persen.

"Penting untuk mengidentifikasi faktor utama untuk pengembangan obat antivirus lebih lanjut," tambah Tong.

Dalam studi yang diterbitkan dalam dua makalah non peer-review di biorxiv.org itu, dijelaskan bahwa studi sebelumnya meyakini kalau menyusui dianggap meningkatkan risiko penularan virus.

Di Wuhan, tempat virus pertama kali terdeteksi, bayi yang baru lahir dipisahkan dari ibunya yang dites positif dan diberi makan ekslusif dengan susu formula. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) pun memperingatkan masyarakat bahwa bayi yang disusui ibu yang dicurigai membawa Covid-19 harus dilihat sebagai penyebar virus ke bayinya jika dia menyusui.

Namun, studi ini membenarkan pernyataan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk para ibu agar tetap menyusui bayinya yang baru lahir bahkan jika si ibu dinyatakan positif. Badan kesehatan global pun mencatat bahwa ada 46 ibu positif tetap menyusui anaknya di beberapa negara hingga Juni.

Dalam laporan lanjutannya, diketahui bahwa ada gen virus dalam ASI si ibu positif, tetapi gen tersebut tidak menyebabkan infeksi. Hanya satu anak yang dinyatakan positif, tapi proses penularannya dikatakan bukan karena menyusui.

(okezone.com)

Berita Terkait

Kesehatan

Bupati Afni Zulkifli Pimpin Langsung Pawai Taaruf MTQ Ke 44 Propinsi Riau di Kuansing

Kesehatan

Bandar dan Kurir Sabu di Siak Ditangkap, Senpi Rakitan Ikut Diamankan

Kesehatan

Bhabinkamtibmas Polsek Kandis Kawal Produktivitas Ketahanan Pangan hingga Masa Panen

Kesehatan

Pembukaan MTQ ke-44 Provinsi Riau, Stand Bazar Inhil Jadi Primadona

Kesehatan

Pekanbaru Target Juara Umum, 70 Kafilah MTQ Riau Ke-44 Dilepas ke Kuansing

Kesehatan

TRC 112 Pekanbaru Ditargetkan Tujuh Menit Sampai di Lokasi