Alasan Stres dapat Mengganggu Daya Tahan Tubuh

Harijal - Rabu, 20 Mei 2020 20:41 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2020/05/8ab392052020_untitled42.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(Istockphoto/fizkes)
Ilustrasi. Stres dapat mengganggu daya tahan tubuh dan membuat seseorang rentan terhadap penyakit.

JAKARTA - Stres turut memengaruhi daya tahan tubuh. Tak hanya mengganggu mental, stres juga bisa membuat seseorang rentan terserang penyakit.

Pada situasi serba tak pasti seperti saat ini, stres bukan lagi barang langka. Berbagai informasi mengenai Covid-19 ditambah tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi membuat seseorang rentan terhadap stres. Padahal, stres bisa mengganggu kondisi fisik.

"Semakin stres seseorang, maka orang tersebut akan mudah jatuh sakit," ujar ahli alergi-imunilogi FKUI, dr Sukamto melalui pesan singkat pada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Sebuah meta analisis dilakukan terhadap 354 penelitian yang mencari hubungan antara stres dan kesehatan di Taiwan dalam kurung waktu 1980-2003. Hasilnya, peneliti menemukan hubungan antara stres dan berbagai aspek kesehatan fisik.

"Studi ini melihat hubungan stres psikologis dan sistem kekebalan manusia," kata Sukamto. Stressor akut seperti ujian dikaitkan dengan kemungkinan peningkatan regulasi beberapa parameter natural immunity atau kekebalan alami dan penurunan regulasi beberapa fungsi kekebalan spesifik.

Sukamto mengatakan bahwa tubuh memiliki sistem pertahanan berlapis. Lapisan pertama adalah kulit dan membran mukosa. Lapisan kedua merupakan sel darah putih dan sel pembunuh alami. Serta lapisan ketiga berupa antibodi dan antitoksin atau yang biasa disebut dengan sistem kekebalan tubuh.

"Nah, natural immunity [kekebalan alami] ini lah tentara lapis pertamanya. Sistem kekebalan ini merupakan sistem kekebalan pertama dan melengkapi manusia sejak saat dilahirkan," kata Sukamto. Kekebalan alami adalah mekanisme suatu organisme mempertahankan diri dari infeksi organisme beberapa saat setelah terpapar.

Sementara sistem kekebalan tubuh spesifik disebut sebagai sistem pertahanan terakhir tubuh. Sistem akan aktif jika mikroba patogen mampu menembus lapisan pertahanan luar. Sistem kekebalan tubuh spesifik, ujar Sukamto, memiliki kemampuan pertahanan yang kuat dalam menghadapi berbagai jenis mikroorganisme patogen tertentu.

Kemampuan sistem kekebalan untuk mengingat mikroba patogen tertentu yang pernah menyerang menjadi kesempatan baginya untuk meningkatkan kemampuannya. Kondisi seperti ini ditemukan dalam penyakit cacar yang tak akan menjangkiti tubuh untuk kedua kalinya. Hal ini disebabkan kemampuan sistem kekebalan yang kian meningkat mendeteksi dan melawan virus penyebab cacar.

Stressor psikologis yang berkepanjangan atau kronis dipercaya dapat menekan sistem kekebalan spesifik tersebut. Keadaan fisik seperti usia dan penyakit juga meningkatkan kerentanan terhadap perubahan kekebalan tubuh selama stres.

"Dengan demikian, stres psikologis baik yang akut maupun yang berkepanjangan akan menurunkan daya tahan tubuh terhadap organisme patogen," pungkas Sukamto. 

(CNNIndonesia.com)

Berita Terkait

Kesehatan

Bupati Afni Zulkifli Pimpin Langsung Pawai Taaruf MTQ Ke 44 Propinsi Riau di Kuansing

Kesehatan

Bandar dan Kurir Sabu di Siak Ditangkap, Senpi Rakitan Ikut Diamankan

Kesehatan

Bhabinkamtibmas Polsek Kandis Kawal Produktivitas Ketahanan Pangan hingga Masa Panen

Kesehatan

Pembukaan MTQ ke-44 Provinsi Riau, Stand Bazar Inhil Jadi Primadona

Kesehatan

Pekanbaru Target Juara Umum, 70 Kafilah MTQ Riau Ke-44 Dilepas ke Kuansing

Kesehatan

TRC 112 Pekanbaru Ditargetkan Tujuh Menit Sampai di Lokasi