Pelaku Bom Gereja di Filipina Diduga Asal Indonesia

Harijal - Sabtu, 02 Februari 2019 10:46 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2019/02/26fc4f022019_0000untitled1.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(Armed Forces Of The Philippines/Handout via REUTERS)
Ledakan bom bunuh diri terjadi di Filipina pada 27 Januari 2019.

JAKARTA - Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano meyakini pengeboman gereja di pulau Jolo, Mindanao pada akhir pekan lalu dilakukan oleh suami istri asal Indonesia.

Pengeboman itu terjadi pada Minggu (27/1) pagi, tepat saat misa pertama selesai dilaksanakan. Bom kedua lantas meledak sesaat setelah tentara merespons ledakan pertama.

Kejadian di Mindanao yang dikenal sebagai basis militan Islam itu menewaskan 22 orang serta melukai lebih dari 100 orang, termasuk warga sipil dan tentara. Kelompok militan ISIS sudah mengklaim bertanggung jawab atas pengeboman tersebut.

"Mereka adalah orang Indonesia. Saya yakin mereka adalah orang Indonesia," kata Ano kepada CNN Filipina, disiarkan Reuters, Jumat (1/2).

Keterangan baru dari Ano itu menambah rumit informasi yang muncul setelah pengeboman. Sebelumnya banyak pernyataan datang dari pemerintahan, penyelidik yang diwawancarai pihak televisi, dan ditambah lagi keruwetan lokasi kejadian.

Pihak keamanan telah mengatakan dua bom dikendalikan dari jauh, namun pada Kamis hal itu berubah setelah Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan kemungkinan bom bunuh diri. Pernyataan Duterte didukung Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana.

Lorenzana mengatakan pada Jumat, sistem pemeriksaan tas di pintu masuk gereja bakal mempersulit meletakkan bom di dalam gedung, sehingga alat yang dilekatkan ke tubuh lebih memungkinkan.

"Menurut para penyelidik forensik ... bagian tubuh ini bisa jadi milik dua orang, satu di dalam gereja dan satu di luar," jelas Lorenzana kepada wartawan.

Ano mengatakan pasangan dari Indonesia itu mendapatkan bantuan dari organisasi militan yang terkenal karena faksi penculikan dan gerakan ekstremis. Ano juga menjelaskan perencana serangan kemungkinan berada di bawah instruksi yang berkaitan dengan ISIS.Lihat juga: Filipina Gempur Abu Sayyaf dari Udara Usai Teror Bom

Darurat militer telah diberlakukan di Mindanao sejak pejuang dalam dan luar negeri mengenakan pakaian hitam menyerbu kota Marawi pada 2017. Selama lima bulan mereka bertahan dari serangan udara dan pertempuran darat yang mengingatkan pada pemandangan di Suriah dan Irak.

Aksi pengeboman ini terjadi setelah undang-undang memperluas otonomi di Mindanao yang mayoritas warganya muslim terbit pada 21 Januari.

Pada Rabu dua orang tewas karena ledakan granat yang dilempar ke masjid dekat Zamboanga, wilayah mayoritas Kristen. Belum diketahui jelas siapa dalang aksi itu. 

(cnnindonesia.com)

Berita Terkait

Mancanegara

Bupati Afni Zulkifli Pimpin Langsung Pawai Taaruf MTQ Ke 44 Propinsi Riau di Kuansing

Mancanegara

Bandar dan Kurir Sabu di Siak Ditangkap, Senpi Rakitan Ikut Diamankan

Mancanegara

Bhabinkamtibmas Polsek Kandis Kawal Produktivitas Ketahanan Pangan hingga Masa Panen

Mancanegara

Pembukaan MTQ ke-44 Provinsi Riau, Stand Bazar Inhil Jadi Primadona

Mancanegara

Pekanbaru Target Juara Umum, 70 Kafilah MTQ Riau Ke-44 Dilepas ke Kuansing

Mancanegara

TRC 112 Pekanbaru Ditargetkan Tujuh Menit Sampai di Lokasi