Tersangkut Isu Rohingya, Penghargaan Kemanusiaan Suu Kyi Diprotes

Harijal - Minggu, 18 September 2016 21:23 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2016/09/81e144092016_00000tersangkutisurohingyapenghargaankemanusiaansuukyidiprotesx4womo3jjr.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi. (Foto: Reuters)

CAMBRIDGE - Pelajar dan kelompok Muslim memprotes terpilihnya pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi sebagai penerima “2016 Humanitarian of the Year” atau “Tokoh Kemanusiaan tahun 2016” dari Yayasan Harvard. Suu Kyi dianggap tidak melakukan apa-apa untuk mengatasi masalah penyiksaan dan penganiayaan yang diterima warga Muslim minoritas Rohingya di negaranya.

Sejak menjadi orang nomor satu di Myanmar pada April lalu, Suu Kyi banyak dikritik oleh para aktivis karena gagal membantu etnis Rohingya yang tertindas di Myanmar. Penerima Nobel perdamaian itu hanya diam, tidak berkomentar atau melakukan apa-apa meskipun penindasan terus berlanjut.

Direktur hubungan eksternal Masyarakat Islam Harvard Anwar Omeish mengatakan organisasinya merasa pemberian penghargaan kemanusiaan untuk Suu Kyi adalah sesuatu yang mengejutkan. Bahkan, beredar kabar para pelajar Muslim telah merencanakan unjuk rasa menentang keputusan ini.

Tidak hanya dari komunitas Muslim Harvard, penolakan juga datang dari organisasi kemanusiaan yang berurusan dengan masalah Rohingya, Burma Task Forces USA. Dalam laman resmi dan Facebooknya, organisasi ini mem-posting pernyataan penolakan dan memberikan daftar alasan mengapa Suu Kyi tidak pantas menerima penghargaan tersebut.

“Pesan (dari pemberian penghargaan ini) adalah institusi pendidikan kami jauh lebih peduli terhadap apa yang ditampilkan di permukaan daripada kenyataan yang kompleks. Benar, Suu Kyi berjuang untuk demokrasi dan hal itu hebat, tapi ini bukanlah penghargaan untuk demokrasi, ini adalah penghargaan kemanusiaan,” kata Direktur Hubungan Burma Task Force USA, Jennifer Sawicz, sebagaimana dilansir Asian Correspondent, Minggu (18/9/2016).

Masalah warga minoritas Muslim Rohingya telah lama menjadi isu panas di Myanmar. Mereka telah tinggal di wilayah Rakhine selama beberapa generasi namun sampai saat ini statusnya masih belum diakui sebagai warga Myanmar dan dianggap sebagai orang luar.

Setiap tahunnya, puluhan ribu warga Rohingya melarikan diri dengan menggunakan perahu ke negara-negara di Asia Tenggara untuk menghindari penindasan di Myanmar. Sebagian dari mereka meninggal di perjalanan atau menjadi korban sindikat perdagangan manusia. PBB menganggap warga Rohingya dianggap sebagai kelompok etnis paling tertindas di muka bumi.

 

(dka/okezone)

Berita Terkait

Mancanegara

Pemulangan Jamaah Haji Kloter 07 Inhil Siap Dikoordinasikan

Mancanegara

Dukung Swasembada Pangan, Personil KSKP Polres Inhil Beri Penyuluhan ke Peternak

Mancanegara

Sepakat! Kecamatan Pulau Burung Tuntaskan Tapal Batas Desa, Jadi Percontohan di Inhil

Mancanegara

Wako Agung Nugroho Launching Logo HUT Pekanbaru Ke-242, Ini Maknanya

Mancanegara

Terbitkan SP3 Dugaan Pemerasan dan Penggelapan, Kapolri hingga Jajaran Polda Lampung Dipraperadilankan di PN Jaksel

Mancanegara

Jeritan Transmigran Air Balui, Menuntut Keadilan di Tengah Sengkarut Agraria