Diusir Tak Mau Pergi, Ini Update Baru Kapal China di Natuna

Harijal - Senin, 14 September 2020 12:53 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2020/09/0daeeb092020_untitled12.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Ist
Foto: Bakamla RI Bayangi dan Usir Kapal Coast Guard China di Laut Natuna Utara.

JAKARTA - Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) hingga kini masih berupaya mengusir kapal coast guard (penjaga pantai) China di Natuna Utara.

Kabag Humas dan Protokol Bakamla RI Kolonel Bakamla Wisnu Pramandita menegaskan kapal China masih keluar masuk kawasan.

"Bakamla terus konsisten menyatakan posisi dan klaim wilayah," tegasnya saat dihubungi CNBC Indonesia, Senin (14/9/2020).

"(Kapal Bakamla) terus membayangi (kapal China)."

Koordinasi pun terus dilakukan dengan Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri.

"Untuk Bakamla fokus pada kehadiran di Laut. Presence at sea, sebagai wujud kehadiran simbol negara. Ini sangat penting," tegasnya lagi.

Sejak Sabtu (12/9/2020), kapal China CCG 5204 memasuki Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI). Meskipun sudah ditanyakan maksud keberadaannya, kapal China itu enggan pergi dan berkeras di area tersebut.

Bahkan, CCG 5204 menyebut mereka tengah berpatroli di wilayah China. Kawasan di Natuna Utara itu di klaim bagian dari "nine dash line (sembilan garis putus-putus) China.

Bakamla pun sudah menegaskan berdasarkan UNCLOS1982 (UU laut internasional), nine dash line tidak diakui keberadaannya. Kapal itupun segera diusir KN Nipah 321 milik Bakamla.

China mengklaim 80% area Laut China Selatan. Ini membuat China bermasalah dengan sejumlah negara ASEAN, seperti Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam dan Filipina.

Kasus ini bukan yang pertama di Natuna. Awal 2020, China juga bersama nelayanan dan penjaga pantai juga menerobos perairan Ri ini.

Sebelumnya pemerintah RI melalui Kementerian Luar Negeri sudah memanggil perwakilan China di Indonesia. Salah satunya untuk menyampaikan keberatan RI ke Beijing soal insiden di Natuna.

(CNNIndonesia.com)

Berita Terkait

Mancanegara

Kawal Status Quo, Pendiri Koperasi JMB Pasang Plank Peringatan

Mancanegara

Tim Gabungan Pekanbaru Siap Siaga Hadapi Karlahut

Mancanegara

Panglima TNI Terima Kunjungan Silaturahmi 76 Paskibraka 2026

Mancanegara

Bupati Inhil Terima Penghargaan Terbaik II IRH dari Kanwil Kemenkum Riau

Mancanegara

Pemko Pekanbaru Upayakan Hibah Aset Eks Caltex Rumbai

Mancanegara

Pacu Jalur Tepian Narosa 2026 Resmi Digelar