JAKARTA - Kamis (21/9) sore, di salah satu sudut rumah di Jalan Lembang Nomor 67, RT 11/7, Menteng, Jakarta Pusat, berkumpul lima orang anak dari Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani. Di meja makan yang cukup untuk delapan orang itu, sebelum terjadinya G-30S/PKI digunakan untuk berkumpul satu keluarga mereka.
Republika.co.id berbincang hangat dengan anak-anak pahlawan revolusi itu. Ditemani cangkir-cangkir berisi kopi panas, kami membicarakan tentang apa yang terjadi pada 1 Oktober 1965 dan hari-hari sebelum itu. Bahkan, mundur jauh hingga bagaimana cara Jenderal Ahmad Yani melakukan pendekatan dengan sang istri, Yayu Rulia Sutowiryo Ahmad Yani.
"Dulu bapak muridnya ibu di sekolah ketik dan bahasa Inggris. Cuma pura-pura aja jadi murid biar deket," ujar putri pertama Ahmad Yani, Indria Ami Ruliati Yani, sembari tertawa kecil.
Pada masa itu, Ruliati mengisahkan, pernah Ahmad Yani harus pergi ke luar kota selama kurang lebih tiga minggu. Karena itu, sang ibunda sedih bukan kepalang. Ketika Ahmad Yani kembali, Yayu juga bukan kepalang senangnya.
"Pacarannya kayaknya setahun. Bapak naik sepeda waktu melamar ibu ke Magelang. Naik onthel dua sepeda bersama mbah. Waktu itu kan belum ada kendaraan umum atau apa ya dan jauh juga," tutur Ruliati yang sempat melakukan studi di Jerman selama lima semester hingga 1968.
Setelah kedua orang tuanya menikah, lahirlah Ruliati dan ketujuh adiknya ke dunia ini. Saudaranya yang paling bontot, Irawan Sura Eddy Yani, mengatakan, kakak-kakaknya lahir hanya berselang satu tahun.
Jenderal yang Doyan Petai dan Main Layangan
Kakak-kakak Eddy lahir hanya beda satu tahun dan perempuan semua. Karena itu, menurut Eddy, bapaknya berharap mendapatkan satu anak laki-laki. Setelah anak keenam, Reni Ina Yuniati Yani, sang bapak berdoa untuk mendapatkan anak lelaki.
"Begitu lahir, anaknya lelaki, makanya dinamain Untung karena dia anak laki-laki yang diharap-harapkan oleh bapak. Setelah dia lahir, ada jarak empat tahun hingga saya lahir," kata Eddi sembari melihat kakak laki-lakinya, Untung Mufreni Yani.
Mendengar cerita dari Eddi, Untung membantah hal tersebut. "Ah cerita (bisa-bisa) dia saja itu," sembari geleng-geleng dan menyeruput kopinya, sementara kakak-kakaknya tertawa.
Saat bercengkrama dengan mereka, Republika duduk di kursi bagian tengah sisi panjang meja makan. Kursi yang biasa diduduki Ahmad Yani dan Yayu ketika makan bersama keluarga saat mereka tinggal di rumah itu. Alasannya, agar Yayu bisa mendistribusikan makanannya dengan mudah ke anak-anaknya.
"Kalau makan pasti semua kumpul di sini. Bapak-Ibu duduk di tengah sini. Kalau makan ayam, Ibu memberikan bagian paling enak ke Bapak dulu, baru setelah itu ke anak-anaknya. Makanan favorit Bapak petai dan lalapan," kata Ruliati.
Selain membicarakan makanan favorit Ahmad Yani, anak keempat dan kelimanya membeberkan kebiasaan sang Jenderal di rumah. Menurut Elina Lili Elastria Yani, bapaknya itu suka bermain layang-layang di halaman rumahnya. Ia juga suka bermain tenis meja atau ping-pong.
"Dulu kita ini yang nyari gelasannya. Lawannya ya yang tinggal di sekitar sini. Bapak juga suka main ping-pong. Yang paling sering diajak main ada di sebelah rumahnya dulu," tutur Elina.
Cerita Penembakan yang Disaksikan Anak-anak Ahmad Yani
Tak disangka-sangka, pada keesokan harinya, saat pagi buta, Ahmad Yani ditembak dan diculik oleh pasukan Tjakrabirawa. Hari di mana Yayu berulang tahun. Saat kejadian itu, Yayu sedang bertirakat di daerah Taman Suropati.
Eddi, yang membangunkan bapaknya ketika pasukan Tjakrabirawa datang menceritakan kronologisnya. Malam sebelum hari ulang tahun Yayu, ia bersama dengan bibinya menemani Yayu mencari baju untuk bertirakat di kamarnya. Namun, Eddi saat itu terlelap.
Firasat dan Tragedi Penculikan Jenderal Ahmad YaniSembari sesekali menyeruput kopi susu hangat yang dihidangkan oleh mereka, Republika.co.id mendengarkan kisah-kisah yang mereka ceritakan itu. Termasuk cerita tentang kejadian pada waktu Subuh 1 Oktober 1965. Hari di mana Ahmad Yani ditembaki dengan tujuh peluru oleh pasukan Tjakrabirawa di hadapan Eddi.
"Sebelum kejadian itu, Bapak bilang, ‘nanti lima Oktober tidak usah sekolah, bolos saja. Kita nonton parade’. Tumben dia ngomong seperti itu, biasanya soal sekolah dia ketat," terang Elina.
Ahmad Yani berkata seperti itu sehari sebelum terbunuh. Ketika itu pula, ada firasat yang tak disadari oleh keluarga.
Empat anak-anak Ahmad Yani sedang duduk di kursi bar yang ada di rumahnya. Botol wewangian yang baru dibawa ke rumah oleh Ahmad Yani tak sengaja terjatuh ke lantai dan pecah. Ia langsung membereskan pecahan-pecahan kaca itu.
"Dia bereskan itu, kemudian dia mengelapkan parfum yang tumpah itu ke kepala dan badan kami berempat. ‘Biar kalau orang nanya wangi dari mana, wanginya dari Bapak’ waktu itu Bapak bilang gitu," tutur anak keenam Ahmad Yani, Reni Ina Yuniati Yani, sekalian memperagakan bagaimana Bapaknya mengelapkan wewangian itu ke anak-anaknya.
Selain itu, Ahmad Yani yang kerap bermain golf di Rawamangun, pada 30 September 1965 memutuskan untuk menyimpan peralatan golfnya. Ia meminta sopirnya untuk menyimpan alat-alat olah raganya itu.
"Dia bilang ke sopirnya, ‘tolong itu disimpan, sudah tidak dipakai lagi’. Pas sehari sebelum kejadian itu," kata Lili.
"Saat bangun, saya bertanya ke mbak, Ibu ke mana. Sekitar jam empat, saya menunggu ibu di pintu depan. Kemudian datanglah pasukan Tjakrabirawa," tutur Eddi.
Saat itu, ia tak mengira yang datang adalah pasukan Tjakrabirawa. Ia melihat ke pos penjagaan di luar rumah dan melihat ada yang datang. Tapi, ia kira itu hanya aplusan penjaga biasa.
"Tapi ini kok pakai baret merah. Mereka kemudian mengetuk pintu dan dibukakan oleh mbak. Mereka bilang bapak dipanggil presiden, masih biasa saja saat itu," kata Eddi yang saat itu berusia tujuh tahun.
Setelah itu, sang bibi berbicara kepada Eddi dan memintanya untuk membangunkan Ahmad Yani yang sedang tertidur di kamar tidurnya. Menurut Eddi, saat itu ada sekitar seratus pasukan Tjakrabirawa yang masuk ke rumahnya.
Eddi kemudian masuk ke kamar Ahmad Yani untuk membangunkan Bapaknya. Ia menggoyang-goyangkan kaki Ahmad Yani dan memberitahukan apa yang disampaikan oleh bibinya itu. Tak lama setelah itu, Ahmad Yani keluar dan berbicara dengan beberapa orang dari Tjakrabirawa. Ahmad Yani dipaksa untuk ikut meski sudah mengatakan, dirinya akan bertemu Presiden pada pukul delapan pagi pada hari itu juga.
"Dia sempat menampar salah satu orang itu. ‘Kamu ini prajurit tahu apa? Saya mandi dulu’, kemudian bapak masuk ke dalam, baru beberapa langkah, prajurit yang lain menembakkan pelurunya ke arah Bapak," ujar Eddi yang pada saat itu mendengar kata "aduh" yang keluar dari mulut ayahnya setelah ditembak.
Ketika itu, Eddi sedang berada di dekat kolam yang ada di tengah rumah itu. Ia melihat langsung ketika orang tuanya ditembak oleh Tjakrabirawa. Eddi langsung histeris kala itu.
Di dalam rumah, ada Untung yang melihat kejadian setelah Bapaknya ditembak. Ia mengatakan, sudah bangun sebelum suara tembakan terdengar. Ia terbangun karena suara berisik dari luar kamar tempatnya tidur.
Saat ia melihat ke depan kamarnya, Untung melihat Ahmad Yani sudah tergeletak di dekat pintu yang kacanya sudah pecah terkena peluru. Untung langsung mendekat ke arah Ahmad Yani untuk memeluk Bapaknya itu. Tapi, ia dilarang oleh pasukan Tjakrabirawa, ada lima orang yang ada di dalam rumahnya itu.
"Kakak-kakak saya juga terbangun saat itu. Kemudian dia diseret seperti binatang oleh Tjakrabirawa, beda seperti di film, kaki tangannya diangkat. Yang betulnya itu kakinya saja yang diangkat dan kepalanya di bawah," kata dia.
Melihat itu, Untung bersama kakak-kakaknya mencoba untuk menghampiri bapaknya. Tapi, mereka diancam akan ditembak oleh pasukan Tjakrabirawa jika melewati pintu rumahnya. "Karena ancaman itu, kami tidak jadi. Kami masih kecil semua saat itu, kami semua menangis di ruang belakang itu," ungkap Untung.
‘Kabar Kematian’ yang Datang Dalam Mimpi
Tak lama kemudian, Yayu datang kembali ke rumah dan menanyakan apa yang terjadi. Untung dan kakak-kakaknya memberitahukan ibundanya apa yang telah terjadi saat itu. Yayu masuk ke dalam rumah dan melihat darah suaminya di lantai. "Sempat dibasuhkannya darah itu ke wajahnya," lanjut Untung.
Yayu pun kemudian tak sadarkan diri dan dibawa ke kamarnya. Saat bangun, Yayu mengambil satu pakaian milik Ahmad Yani dan mengelap darah suaminya dengan kemeja itu. Kemeja untuk mengelap darah Ahmad Yani itu kini masih tersimpan di dalam kamarnya.
"Ibu sempat selama kurang lebih tiga bulan membawa pakaian itu ke mana-mana. Dibungkus dengan koran, dia bawa pakaian itu. Ketika tidur dan saat ke Bandung pun ia bawa," terang Untung.
Usai kejadian itu, mereka sekeluarga diungsikan ke sebuah rumah di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Ancaman kembali diserbunya rumah dinas Ahmad Yani itu jadi salah satu penyebabnya mereka diungsikan.
Menurut Elina, saat mereka diungsikan itu, sebelum jenazah bapaknya ditemukan, Yayu mengumpulkan anak-anaknya dan mengatakan, Ahmad Yani telah meninggal. Yayu saat itu mengaku didatangi oleh Ahmad Yani melalui mimpinya.
"‘Saya hanya ingin titip anak-anak’ katanya saat menemui Ibu seperti itu. Ibu berkata seperti itu kami belum percaya. Tapi sore harinya, dikatakan jenazahnya sudah ditemukan," kata dia.
Ketika itu pula, berdasarkan keterangan ketiga anak perempuan Ahmad Yani itu, kakek dan neneknya pun mendapatkan ‘kunjungan’ dari Ahmad Yani. Sang nenek melihat sosok Ahmad Yani di rumahnya dan memberitahukannya kepada kakeknya.
Ternyata, kata-kata Ahmad Yani kepada anak-anaknya, yang menyuruh mereka untuk bolos sekolah pada lima Oktober, benar-benar terjadi. Tapi, bukan untuk menonton parade seperti yang dijanjikan, melainkan untuk menguburkan jasad Ahmad Yani, ayahanda mereka tercinta.(ROL)