Mengapa Etnis Rohingya Begitu Dibenci di Myanmar?

Harijal - Jumat, 08 September 2017 08:26 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2017/09/015218092017_00000aauntitled3.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171

JAKARTA - Meski konflik kekerasan yang dialami etnis Rohingya terus terjadi, namun asal muasal etnis minoritas di Myanmar terus dipertanyakan. Pengamat Internasional, Arya Sandhiyudha memaparkan enam fase interaksi antara Myanmar dengan etnis Rohingya.

Arya Sandhiyudha mengatakan, pada fase pertama, Rohingya disebut sudah datang ke Myanmar sejak abad ke 7 sampai tahun 1785. Saat itu kata dia Arakan adalah milik Rohingya secara minoritas. Kemudian pada fase kedua 1785 hingga 1825, orang-orang Burma hadir dan mulai menerapkan pengusiran terhadap etnis Rohingya.

“Jadi jika ditanya dari mana mereka berasal, memang dari Rakhine. Pada fase kedua, meski tidak ada istilah genosida (pemusnahan), namun sudah dipraktekkan. Pada saat itu Rohingya terusir ke Bangladesh,” kata Arya dalam diskusi Redbons, Bencana Kemanusiaan Rohingya & Solidaritas Muslim ASEAN di Kantor Redaksi Okezone, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (7/9/2017).

Pada fase selanjutnya ialah saat penjajahan Inggris (1826 – 1948). Saat itu Inggris menghadirkan orang-orang di wilayah jajahannya yang lain. Dan mereka memilih etnis Rohingya untuk masuk membantu Inggris di Myanmar. Pada saat itu penduduk mulai menanamkan pendidikan kepada genarasinya terhadap Rohingya.

“Dan di sini (fase ketiga) pendidikan di Myanmar mulai membangun persepsi bahwa warga etnis Rohingya adalah sekutu Inggris yang melakukan konfrontasi ke penduduk Myanmar asli. Dan ini mengakibatkan perlawanan (penduduk Myanmar) karena sudah dibangun sejak kecil,” jelasnya.

Dikatakan Arya, fase keempat adalah bagian yang jarang diceritakan (1948-1970). Yakni saat Myanmar dan etnis Rohingya memasuki masa-masa bulan madu. Maksudnya tidak ada ketegangan apapun baik secara pemerintahan maupun antar suku di Myanmar. Etnis minoritas itu juga diakui secara regulasi negara.

Namun perkara baru mulai muncul di fase kelima (1970 – 1980). Ketika itu junta militer mulai melakukan serangkaian kekerasan terhadap etnis Rohingya. Disamping itu militer juga berlaku diskriminasi dan persekusi terhadap etnis minoritas tersebut. Dan di fase terakhir 1982, mereka resmi dianggap sebagai penduduk illegal.

Konflik kekerasan yang dialami etnis Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar kembali terjadi sejak akhir Agustus 2017 lalu. Setidaknya 100 ribu lebih masyarakat etnis tersebut terpaksa menyelamatkan diri ke Bangladesh dan 400 orang tewas akibat serangan dari junta militer Myanmar.

 

(kha/okezone)

Berita Terkait

Features

Dugaan Perusakan Kawasan Hutan, PT. Musim Mas Tersangka

Features

Perlindungan Masyarakat Hukum Adat, Pemprov Riau Sambut Baik Ranperda Tanah Ulayat

Features

Tertibkan Pak Ogah, Dishub Pekanbaru Sisir Jalan Kota Pekanbaru Setiap 2 Jam

Features

Puluhan Hakim Panitera dan ASN di PN Bengkalis Dites Urine Mendadak

Features

Polsek Kandis Tebar Kepedulian Lingkungan, Pengantin Baru Terima Kado Bibit Pohon Ketapang

Features

Polda Riau Bongkar Dugaan Kejahatan Lingkungan yang Dilakukan Korporasi Sawit