MERDEKA! Kata bernada tinggi dan mengguntur itu begitu sering diucapkan pemuda Indonesia semenjak republik ini lahir via Proklamasi 17 Agustus 1945. Satu kata ini juga seolah jadi suntikan penyemangat tersendiri bagi berbagai generasi negeri kita untuk mengusir penjajah.
Di sisi lain kalau kita mendengar pekik Merdeka!, paling sering akan terbersit zaman perjuangan dan tentu saja dwitunggal Ir Soekarno-Mohammad Hatta. Tapi apakah Bung Karno atau Bung Hatta yang memelopori pekikan ini?
Memang yang memopulerkannya di berbagai kesempatan adalah Bung Karno. Pekikan ini bahkan masih jadi salam salah satu partai politik (parpol) dengan begitu bangganya, setelah pekik ini sempat memudar pasca-kejatuhan Soekarno pada 1966.
Sekira 2 tahun lalu, pekik Merdeka! bahkan sempat jadi bahan tertawaan di antara para wakil rakyat di Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan. Ya, ketika salah satu legislator DPRD Muba memekikkan Merdeka! di sebuah rapat paripurna, para peserta rapat yang lain justru menertawakannya.
Memang pekik ini sempat jadi jargonnya parpol macam Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Namun asal tahu saja, pekik Merdeka! ini merupakan salam nasional milik semua insan Indonesia.
Pekik ini ditetapkan sebagai salam nasional negara kita melalui maklumat Pemerintah RI tertanggal 31 Agustus 1945 dan resmi mulai diterapkan 1 September 1945. Pekik ini selalu dicetuskan Bung Karno dalam berbagai forum demi membangkitkan semangat pemuda Indonesia.
Tapi asal tahu saja, bukan Bung Karno yang mempelopori pekikan ini. Melainkan tokoh negarawan Oto Iskandar Dinata alias Otista.
Figur anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang juga Menteri Keamanan Negara pertama RI.
Disarikan dari buku ‘Api Sejarah 2’ oleh Ahmad Mansur Suryanegara, tokoh asal Paguyuban Pasukan berjuluk “Si Jalak Harupat” itulah yang menganjurkan salam “Indonesia Merdeka!”. Pekik Indonesia Merdeka! pertama kali diteriakkannya dengan lantang di tangga gedung Jawa Hokokkai (kini Gedung Mahkamah Agung) pada 20 Agustus 1945.
Tapi karena merasa ‘kepanjangan’, oleh beberapa rekannya diusulkan lagi pekiknya dipersingkat dengan hanya Merdeka! Pekik ini lazimnya dibarengi dengan mengacungkan kepalan tangan ke atas dengan nada suara mengguntur.
Lazimnya pula, sapaan Merdeka! ini yang dilakukan ketika bertemu sesama pemuda atau orang Indonesia, akan dijawab seruan yang sama, atau dijawab dengan pekik “Tetap!”, sebagai kependekan dari semboyan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
(raw/okezone)