Puisi Air Mata Khodijah dari Luar Batang

Harijal - Rabu, 17 Agustus 2016 13:17 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2016/08/93d4e9082016_000puisiairmatakhodijahdariluarbatang.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Nur Hasan Murtiaji/Republika
Khodijah bicah warga Luar Batang membacakan puisinya

JAKARTA - Ada suasana berbeda di Luar Batang, Jakarta Utara, Rabu (17/8) pagi. Perayaan ke-71 Kemerdekaan RI diliputi keharuan warga Luar Batang yang mengikuti upacara tersebut.

Adalah Siti Khodijah, bocah korban penggusuran Luar Batang, yang mengawali keharuan upacara kemerdekaan tersebut. Sekitar seratus warga korban penggusuran Luar Batang mengikuti dengan khidmat upacara kemerdekaan yang digelar Dompet Dhuafa bekerja sama dengan Republika itu. Republika menggandeng Dompet Dhuafa dalam gerakan Literasi Umat.

"Awalnya saya mau membuat puisi tentang penggusuran, tapi ya tentang pemimpin sajalah. Kita kan butuh sekolah, tapi karena penggusuran ini saya dan teman-teman tidak bisa lagi sekolah," kata Ijah, panggilan akrab Siti Khodijah, murid SD PKBM Negeri 17, Penjaringan, Jakarta Utara, menjelaskan kepada Republika.co,id, Rabu (17/8).

Ijah mengawali dengan membaca judul puisinya `Merindukan Pemimpin yang Merakyat`. Gadis kelas 6 yang berjilbab ini beberapa kali tersengal menahan haru saat membacakan puisinya yang merupakan rangkaian dari upacara 17-an.

Peserta upacara yang terdiri dari bapak-bapak, ibu, dan anak-anak tersebut pun terbawa suasana keharuan. Tampak air mata mengalir di pipi mereka yang memang sudah keriput termakan zaman dan kerasnya kehidupan.

Ini isi lengkap puisi Siti Khodijah, anak warga korban penggusuran di Luar Batang.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Merindukan Pemimpin yang Merakyat

Inilah wajah Indonesia yang ku cinta ....Inilah Indonesiaku yang ku banggakan ....

Kami rindu Indonesia dan pemimpin yang menghargai dan menghormati jasa-jasa perjuangan orang tua dan kakek kami...

Bangsa ini....tak akan hebat tanpa jasa-jasa mereka....

Kami rindu pemimpin yang mencintai pejuang-pejuang bangsa ini....

Kami rindu pemimpin rakyat kecil seperti kami....Kami rindu pemimpin yang tidak selalu menindas rakyat kecil

Biarkan kami hidup dengan tenang....Tanpa penindasan, kekerasan dan ketakutan....

Tolonglah mengerti kami....Kami tidak ingin putus sekolah, kehilangan tempat tinggal dan hidup tidak layak....

Kami tidak ingin masa depan kami berhenti begitu saja....

Jadikanlah kami penerus bangsa yang akan membawa nama baik negara Indonesia.....

(ROL)

Berita Terkait

Features

Sisir Sarang Narkoba di Pekanbaru, Polisi Amankan Tiga Pria Positif Metamfetamin

Features

Hujan Petir dan Angin Kencang Landa Pekanbaru, 11 Pohon Tumbang

Features

AKP Noki Pimpin Tim Gabungan Gempur Kawasan Rawan Narkoba di Pekanbaru

Features

Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Aiptu Andi Hidayat Pantau Perkembangan Jagung Petani Dumai

Features

PERHATI-BKL Gelar Pelatihan Dokter Cilik di UPT SD Negeri 024 Tarai Bangun

Features

Aniaya Ayah Kandung hingga Tewas, Seorang Pria di Teluk Meranti Diringkus Polisi