Mega Tsunami PHK Otomotif, 80.000 Orang akan Kena Libas

Harijal - Rabu, 04 Desember 2019 17:26 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2019/12/e46812122019_untitled9.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Foto: Ilustrasi REUTERS/Fabian Bimmer

JAKARTA - Periode 2019 bisa jadi tahun terburuk bagi para pekerja di sektor otomotif di seluruh dunia. Ini dikarenakan pada tahun ini banyak terjadi pemutusan hubungan kerja atau PHK massal di sektor.

Hal ini dipicu akibat menurunnya permintaan dan kemunculan inovasi baru dalam teknologi kendaraan. Langkah yang dilakukan para produsen otomotif, tak lain melakukan efisiensi terutama di sektor tenaga kerja.

Belum lama ini, Daimler dan Audi mengumumkan mengurangi hampir 20.000 karyawannya, sebagaimana dilaporkan South China Morning Post (SCMP) yang mengutip data Bloomberg News.

Bahkan, dari laporan itu diprediksi bahwa akan ada 80.000 pekerja yang terancam kehilangan pekerjaan dalam beberapa tahun ke depan.

"Meskipun pemotongan (jumlah pekerja diperkirakan) terkonsentrasi di Jerman, Amerika serikat (AS) dan Inggris, ekonomi yang tumbuh lebih cepat belum kebal dan produsen mobil diperkirakan akan mengurangi operasi di sana," tulis SCMP.

Sebelumnya sepanjang tahun ini, berbagai perusahaan mobil dunia juga telah melakukan pemangkasan jumlah karyawannya sejak awal 2019. Beberapa di antaranya adalah General Motors (GM) yang merumahkan 14.000 karyawan, Ford Motor 12.000 pekerja dan Nissan Motor yang akan memangkas 12.500 karyawannya hingga 2023 mendatang.

Alasan mereka mengurangi pekerja adalah untuk melakukan lebih banyak penghematan dalam biaya operasi perusahaan. Industri otomotif telah banyak merugi sepanjang 2019 ini akibat perang dagang yang sudah berlangsung lama antara berbagai negara dunia, terutama AS dengan China.

Tarif yang diterapkan kedua ekonomi terbesar di dunia ini telah meningkatkan biaya perusahaan dan menghambat investasi.

Selain di Amerika dan Eropa, pemangkasan jumlah pekerja juga dilakukan perusahaan mobil China. Startup kendaraan listrik NIO, yang telah merugi hingga miliaran dolar dan mencatatkan kinerja saham yang buruk di Bursa New York, telah mem-PHK sekitar 20% tenaga kerjanya pada akhir September atau sekitar 2.000 orang.

"Perlambatan yang terus-menerus di pasar global akan terus mengurangi margin dan pendapatan produsen mobil, yang telah dirugikan oleh peningkatan pengeluaran Penelitian dan Pengembangan (R&D) untuk teknologi mobil otonom," kata Gillian Davis, analis Bloomberg Intelligence.

"Banyak produsen mobil sekarang fokus pada rencana penghematan biaya untuk mencegah erosi margin," katanya. 

(cnbcindonesia.com)

Berita Terkait

Ekbis

Hendry Munief Terima Silaturahmi Himpunan Siompu Kampar Riau

Ekbis

Korban Penganiayaan Disomasi oleh Advokat Terduga Penganiaya

Ekbis

Dolfie Rompas Minta Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Klarifikasi Isu Pertemuan dengan Dubes Singapura

Ekbis

Fraksi PKS DPRD Riau Dorong Pembahasan Perda LGBT Disegerakan

Ekbis

Ancam Warga, Pria di Tapung Hulu Lepaskan Tembakan Saat Dikejar Anggota TNI

Ekbis

Diguyur Hujan Sejak Sore, Malam Ini Atmosfer Pekanbaru Kembali Biru