Industri Otomotif Ramai-ramai PHK Karyawan

Harijal - Senin, 02 Desember 2019 14:18 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2019/12/1b8c09122019_untitled9.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(AFP/Thomas Kienzle).
Industri otomotif di dunia ramai-ramai menempuh langkah PHK karyawan demi mengembangkan mobil listrik.

JAKARTA - Industri otomotif mulai menempuh langkah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebagai bagian dari strategi pengembangan mobil listrik. Daimler, produsen mobil asal Jerman bermerek Mercedes-Benz, akan mem-PHK terhadap 10.000 karyawan mereka.

Daimler mengatakan perlu mengurangi biaya kepegawaian demi beralih mengembangkan industri mobil listrik. Transformasi otomotif ke mobil listrik akan memicu gelombang investasi baru dalam mobil listrik, namun sebelum itu terjadi industri otomotif harus meningkatkan daya saing dan inovasinya.

"Industri otomotif sedang mengalami transformasi terbesar dalam sejarahnya. Kami ingin meningkatkan daya saing, inovasi, dan kekuatan investasi," imbuh Daimler seperti dilansir CNN.com, Senin (2/12).

Kepala Personel Daimler (DDAIF) Wilfriend Porth mengakui pengurangan pekerjaan paling sedikit berdampak kepada puluhan ribu orang. Untuk posisi manajemen, PHK setidaknya mengurangi jumlah karyawan hingga 10 persen.

Daimler menjelaskan saat ini perusahaan mempekerjakan sekitar 300 ribu karyawan. Di antaranya 60 persen karyawan bermarkas di Jerman.

"Perubahan (PHK) akan menghemat hingga 1,4 miliar euro (US$1,5 miliar) pada akhir 2022 mendatang," terang Porth.

Pelaku industri otomotif tradisional di seluruh dunia tengah beradaptasi dengan bisnis model mereka dari mesin yang mengandalkan bensin dan diesel menjadi mobil listrik.

Namun, peralihan tersebut berakibat pada pengurangan jumlah tenaga kerja, karena produksi mobil listrik membutuhkan lebih sedikit pekerja. Di sisi lain, biaya investasi yang dibutuhkan tidak sedikit.

Sebelumnya, Audi yang dimiliki oleh Volkswagen (VLKAF) menyebut akan melakukan PHK terhadap 9.500 karyawan hingga 2025 mendatang. Jumlah itu tercatat sebanyak 10 persen dari total tenaga kerjanya di seluruh dunia.

PHK yang dilakukan Audi diperkirakan menghemat sekitar 6 miliar euro atau US$6,6 miliar selama 10 tahun. Kendati begitu, produsen mobil premium tersebut akan menciptakan 2.000 pekerjaan baru yang fokus pada mobil listrik.

Ford, produsen mobil asal Amerika Serikat (AS), sebelumnya mengungkap merumahkan ribuan karyawan mereka pada Mei 2019. Sebulan kemudian, sebanyak 12 ribu karyawan di-PHK.

Kemudian, Nissan juga mengumumkan melakukan PHK terhadap 12.500 karyawan mereka. PHK terjadi di tengah penurunan penjualan mobil akibat perlambatan ekonomi.

Fitch Ratings memproyeksi bahwa penjualan mobil di dunia turun 3,1 juta unit pada tahun ini. Angka penurunan ini jauh lebih tajam ketimbang 2008 lalu ketika krisis menghantam.

Bisnis otomotif memang tertekan, terutama di Inggris dan India, di mana perlambatan ekonomi telah mengurangi permintaan pasar untuk mobil baru. Di Inggris, jumlah kendaraan yang diproduksi turun selama 16-17 bulan terakhir dampak ketidakpastian Brexit.

(cnnindonesia.com)

Berita Terkait

Ekbis

Bupati Afni Masuk Potret Ekspedisi 22 Sosok Reset Indonesia

Ekbis

Polda Riau Raih Penghargaan Tertinggi Nugraha Sakanti dari Presiden

Ekbis

Kasus Kematian Perempuan di Kandis Diusut Intensif, Polisi Dalami Dugaan Pembunuhan

Ekbis

PPPK Pemprov Riau Kini Bebas Pemotongan Zakat Profesi

Ekbis

Syukuran Hari Bhayangkara ke-80, Sekda Siak: Polri Garda Terdepan Jaga Keamanan dan Dukung Pembangunan Daerah.

Ekbis

Gencarkan Promosi, Kementrian Pariwisata Turut Sukseskan Event Bakar Tongkang