Harga Telur Ayam Meroket, Ini Fakta Menariknya

Harijal - Rabu, 18 Juli 2018 08:13 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2018/07/1f5ddf072018_0000untitled16.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
(Foto:Okezone)
Ilustrasi Telur

JAKARTA - Harga telur terus meroket, bahkan kenaikannya cenderung bertahan sejak Puasa atau hingga Lebaran usai. Berdasarkan Info Pangan Jakarta, harga telur tertinggi Rp31.000 per kilogram (kg) yang berada di Pasar Pulo Gadung, kemudian harga terendah Rp23.000 per kg di Pasar Cempaka Putih. Sehingga harga rata-rata telur di Jakarta Rp28.395 per kg.

Ternyata ada beberapa penyebab mengapa dua komoditas bahan pangan tersebut naik. Berikut ini fakta-faktanya, seperti dirangkum Okezone.

1. Peternak ungkap penyebab harga telur naik

Peternak ayam menyatakan pelarangan pemakaian antibiotic growth promotor atau AGP, menjadi pemicu dari melonjaknya harga telur ayam di pasaran. Sebab, AGP membuat pasokan ayam berkurang yang berimbas rendahnya pasokan telur di pasar dan berdampak kenaikan harga. 

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional Feri mengungkapkan, tanpa AGP membuat daya tahan hidup ayam berkurang, hal ini berimbas pasokan ayam petelur berkurang.

Kondisi ini pasokan membuat ayam petelur berkurang 10% karena penyakit. "Saat ini (pasokan ayam petelur) turun 5%-10% karena penyakit," katanya.

2. Harga telur sentuh level Rp28.000 per kilogram

Usai melakukan pertemuan dengan Kementerian Pertanian, Satuan Tugas (Satgas) Pangan, Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU), hingga asosiasi peternak ayam untuk membahas kenaikan harga telur ayam. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukit mengatakan, diketahui beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan harga.

Di antaranya produktivitas ayam terhadap telur yang terus berkurang, hal ini dipicu pasokan ayam petelur yang juga kian berkurang. Hal ini menyusul, kebijakan pemerintah untuk mengurangi obat-obatan pada ayam untuk meningkatkan kualitas ternak. Namun, hal ini berisiko terhadap daya tahan ayam untuk bertahan hidup sehingga jumlah ayam petelor sendiri mengalami pengurangan.

"Kementerian kita sepakat kurangi kadar obat-obatan agar ayam lebih sehat, terutama antibiotik tapi cukup berisiko. Risikonya tingkat produktifiktas ayam, daya tahannya hingga kematian," jelasnya.

3. Libur panjang Lebaran turut berkontribusi naikan harga telur

Pekerja yang libur membuat kegiatan memproduksi ayam petelur tak dapat dilakukan, maka pasca libur peternak hanya mengandalkan stok ayam petelur lama.

Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Heri Dermawan menjelaskan, kemungkinan peternak libur sejak tanggal 15-22 Juni 2018, di masa itu tak ada kegiatan menghasilkan telur baru atau bibit ayam baru. Maka, proses menghasilkan telur dilakukan sejak 23 Juni 2018, dengan waktu panen yakni satu bulan atau jatuh di 23 Juli 2018.

"Sekarang memang sangat kurang ayam karena tadi. Kan pas H-7 sama H+7 Lebaran, pekerja ingin libur dan harus libur. Kalau kita enggak libur karyawan, kan salah juga," jelasnya.

4. Peringatan pemerintah untuk peternak segera turunkan harga telur

Kementerian Perdagangan melihat adanya potensi pihak-pihak menaikkan margin keuntungan dalam kondisi tersebut. Di mana pelaku dalam mata rantai perdagangan telur ayam paling menikmati keuntungan, terlebih bila mata rantai tersebut cukup panjang, maka akan semakin tinggi harganya.

Oleh sebab itu, pemerintah memberi waktu selama seminggu untuk pihak-pihak yang berada dalam rantai perdagangan telur dapat menurunkan harga. Hal ini bukan berarti harga telur akan langsung jatuh di harga normal, setidaknya harga akan turun secara bertahap.

"Kita sepakat memberikan batas waktu satu minggu. Bukan berarti langsung turun tapi ada penurunan bertahap," tukasnya.

Kendati dalam seminggu tak terjadi penurunan harga seperti yang diinginkan, maka Kemendag akan melakukan intervensi pasar dengan meminta para integrator besar untuk mengeluarkan suplai telur ke pasar, sehingga melakukan penjualan tanpa mata rantai yang panjang.

(okezone.com)

Berita Terkait

Ekbis

Hardiknas 2026, Kepala UPT SDN 019 Pandau Jaya Tekankan 3M untuk Kemajuan Pendidikan

Ekbis

UPT SMP Negeri 1 Bangkinang Kota Gelar Upacara Hardiknas 2026

Ekbis

Sambut HPN dan HUT PWI ke-80, PWI Riau Undang Wartawan dan Warga Ikut Donor Darah

Ekbis

Plt Gubri Targetkan 85 Persen Pekerja Riau Terlindungi Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Ekbis

Aksi Hardiknas: Ultimatum Mahasiswa Demo Lebih Besar Akan Digelar Senin

Ekbis

Cerita Malaysia Rekrut Guru RI buat Bikin Warganya Jadi Pintar