Bawang Merah Dihargai Rp 2.000 per Kilogram, Petani Menangis

Harijal - Senin, 17 April 2017 17:25 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2017/04/80c43e042017_0000petanibawang.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Petani Bawang Merah (Ilustrasi)

CIREBON - Harga bawang merah milik para petani di Kabupaten Cirebon, anjlok. Mereka pun terpaksa harus beralih tanam pada komoditas tanaman sayuran lainnya. Pengurus Kelompok Tani Cukang Akar Desa Silih Asih, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon, Rois, menyebutkan, saat ini harga bawang merah di desanya hanya dihargai Rp 2.000–3.000 per kg di tingkat petani. Sedangkan harga bawang merah di tingkat pedagang Pasar Induk Kramat Jati Jakarta, diketahuinya hanya Rp 7.000 per kg.  "Harga ini sangat rendah sekali," ujar Rois dikutip dari Republika.co.id, Senin (17/4). Menurut Rois, untuk mencapai break event point (BEP), harga bawang merah di tingkat petani seharusnya Rp 20 ribu per kg. Tingginya BEP itu disebabkan mahalnya biaya tanam, termasuk harga bibit bawang merah yang sudah mencapai Rp 40 ribu per kg. Dengan harga jual bawang merah yang hanya Rp 2.000 – Rp 3.000 per kg, Rois mengaku petani menanggung kerugian yang sangat besar. Ini karena modal yang telah dikeluarkan selama musim tanam sangat tak sebanding dengan hasil panen yang mereka peroleh. "Petani saat ini menangis," tutur Rois. Rois menjelaskan, rendahnya harga bawang merah milik petani itu disebabkan rendahnya kualitas bawang yang mereka panen. Hal itu akibat tingginya curah hujan selama masa tanam yang menyebabkan tanaman bawang merah menjadi rusak. Tak hanya kualitas dan harganya yang rendah, lanjut Rois, hasil panen petani secara kuantitas juga jauh menurun. Dalam kondisi normal, panen bawang merah bisa mencapai sepuluh ton per hektare. Namun saat ini, hasil panen hanya sekitar empat ton per hektare. "Bahkan banyak juga petani yang gagal panen, tidak dapat hasil sama sekali," terang Rois. Rois mengatakan, anjloknya harga bawang merah membuat petani kesulitan modal untuk memulai kembali penanaman bawang merah pada musim tanam berikutnya. Karena itu, mereka akan beralih pada komoditas tanaman sayuran lainnya, seperti timun dan jagung. "Petani bawang merah saat ini gulung tikar," kata Rois. Sementara itu, salah seorang pedagang sayuran di Pasar Pagi Kota Cirebon, Ilah mengatakan, kualitas bawang merah saat ini memang kurang bagus. Menurutnya, bawang merah cepat membusuk akibat banyaknya kandungan air di dalamnya.  Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Ali Efendi membenarkan tingkat intensitas hujan di Kabupaten Cirebon selama musim tanam 2016/2017 memang sangat tinggi. Selain menyebabkan banjir, hal tersebut juga membuat tanaman bawang merah diserang berbagai hama dan penyakit.

Dampaknya, tanaman bawang merah mengalami penurunan secara kuantitas, kualitas maupun harganya. Bahkan, adapula yang mengalami gagal panen. "Hasil panen jadi kurang optimal," tutur Ali.(ROL)

Berita Terkait

Ekbis

Polsek Kandis Ungkap Kasus Narkotika, Amankan Kurir dengan Barang Bukti 28,71 Gram Sabu

Ekbis

Kelompok Tani SKB Pangean Merasa Dibohongi PT. RAPP, Tuntut Penyelesaian Lahan

Ekbis

Komisioner KI Kecam Kadisdik Riau, Abaikan Sengketa Informasi, Minta Diberi Sanksi Keras

Ekbis

Prosedur Pemindahan Warga Binaan, Kalapas Bagansiapiapi Kedepankan Asas Pembinaan

Ekbis

Musrenbang RKPD 2027 Pemprov Riau, Hendry Munief Beri Catatan Penting

Ekbis

Bupati Inhil Bangun Pasar Induk Yos Sudarso yang Megah, Pedagang Pasar Subuh Pindah ke Lokasi Baru