Persoalan Kelapa Inhil Bukan Sekadar Hilirisasi dan Ekspor

Riki - Minggu, 23 Agustus 2026 23:55 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2026/08/_1974_Persoalan-Kelapa-Inhil-Bukan-Sekadar-Hilirisasi-dan-Ekspor.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Ilustrasi.(Foto: Istimewa)
kabarmelayu.com,INHIL - Terkait anjloknya harga kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), tidak cukup diselesaikan hanya dengan intervensi harga, ekspor dan pembangunan hilirisasi. Tata niaga di tingkat desa juga harus dibenahi.

Demikian disampaikan Rosmely, SH, Ketua PPWI Inhil menanggapi persoalan harga kelapa yang membuat petani di Negeri Seribu Parit ini menjerit. Kian hari masalah ini kian mengkhawatirkan.

Pernyataan Anggota DPR RI asal Riau, Syahrul Aidi Maazat, terkait anjloknya harga kelapa Inhil dan perlunya intervensi pemerintah, Rosmely menilai persoalan kelapa Inhil tak sesederhana itu.

"Di Inhil sudah ada tiga pabrik Sambu, yakni di Guntung, Pulau Burung dan Kuala Enok. Pancang Sambu juga tersebar di desa-desa. Kalau dibangun lagi pabrik hilirisasi, pertanyaannya sederhana, siapa yang akan mengantar buah ke sana, sedangkan perusahaan baru tidak memiliki kebun sendiri" ujar Rosmely.

Persoalan saat ini bukan tidak ada kapal luar yang mau masuk mengambil kelapa. Masalahnya, kapal membutuhkan muatan besar dan harus menunggu berhari-hari hingga buah terkumpul. Kondisi itu membuat biaya operasional semakin tinggi.

"Jangan bilang ekspor tak bisa. Kita harus melihat kenapa mereka tidak masuk untuk membeli kelapa?l. Salah satu persoalannya adalah pola pengumpulan buah di desa," kata dia.

Rosmely yang sejak lama mengamati persoalan ini juga mempertanyakan alasan buah melimpah dan permintaan pasar menurun yang kerap dijadikan dasar turunnya harga.

"Sambu bukan hanya membeli kelapa. Mereka juga memiliki industri dan memproduksi berbagai produk turunan kelapa. Kalau alasannya buah melimpah dan permintaan turun, masyarakat berhak bertanya, berapa sebenarnya kapasitas serapan dan pengolahan mereka," tegasnya.

Pemerintah harus meminta perusahaan membuka data produksi, kapasitas pabrik, volume penyerapan, produk turunan dan ekspor agar persoalan harga tidak hanya dijelaskan berdasarkan asumsi.

"Kalau benar permintaan turun, buka datanya. Kalau buah melimpah, berapa yang diproduksi dan berapa yang mampu diserap industri? Jangan sampai petani terus menjadi pihak yang menanggung akibatnya, masih mending jika pas buah sedikit di hargai tinggi jadi masyarakat tidak merasa di zolimi," pungkas Rosmely.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Ekbis

Nilai Kelapa Inhil Anjlok, Pemerintah Diminta Intervensi Harga dan Tinjau Kebijakan Ekspor

Ekbis

Buah Melimpah, Harga Turun, Nilai Ekonomi Kelapa Inhil Hilang

Ekbis

Bupati Inhil Terima Penghargaan Terbaik II IRH dari Kanwil Kemenkum Riau

Ekbis

Hari Pramuka ke-65, 24 Insan Pramuka Riau Terima Lencana Kehormatan

Ekbis

Bupati Hadiri Rapat Laporan Akhir Feasibility Study Hilirisasi Kelapa di Inhil

Ekbis

Kwarnas Beri Penghargaan Lencana Darma Bakti, Bukti Komitmen Kak Sulastri Majukan Gerakan Pramuka