Profesor Bungaran Saragih : Sawit Milik Rakyat Juga

Harijal - Selasa, 16 November 2021 14:57 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2021/11/6ba4bc112021_profesorbungaransaragihsawitm.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Profesor Bungaran Saragih

PEKANBARU - Menurut Profesor Bungaran Saragih, perkembangan perkebunan sawit saat ini di Indonesia adalah revolusi positif yang mendukung kemajuan negara di kancah internasional. Namun kejayaan Indonesia yang menjadi eksportir terbesar untuk produk turunan kelapa sawit bisa saja musnah jika tidak dikelola dengan baik.

"Kalau saja kita ingat, kita sudah pernah menjadi eksportir gula dan karet terbesar beberapa waktu silam.  Namun kini kalah dengan negara Malaysia dan Thailand," bebernya dalam Seminar Nasional Universitas Riau, Senin (15/11).

Menurutnya kondisi saat ini adalah sejarah ketiga Indonesia diakui dunia. Diingat mantan menteri pertanian kabinet gotong royong tersebut, sekitar 40 tahun lalu luasan perkebunan sawit hanya mencapai 380 ribu hektar seluruh Indonesia. Sementara saat ini sudah mencapai 16 juta hektar lebih.

Memang hingga saat ini muncul paradigma yang membenturkan perkebunan sawit dengan lingkungan. Kendati demikian kondisi sawit yang kini dinikmati masyarakat hingga pekebun kecil adalah pilar bahwa industri sawit tidak hanya memikirkan kesejahteraan namun juga rakyat dan sebagainya.

"Revolusi sawit adalah dimana para petani memiliki peran penting dan memang sedari dulu begitu. Jadi sawit adalah milik rakyat," tuturnya.

Jika sudah berkata, sawit milik rakyat maka luas perkebunan milik masyarakat tentu harus terbilang luas pula. Sementara, saat ini menurut Bungaran, Riau adalah provinsi yang menjadi pelopor untuk perkebunan rakyat. Tentu karena luasan kebun milik masyarakat tergolong luas.

"Semakin luas kebun masyarakat dibandingkan perusahaan maka akan semakin mengurangi kritikan tentang sawit. Sebab tentu sudah masuk dalam program sawit berkelanjutan dan sesuai dengan prinsip ISPO," paparnya.

Pria kelahiran 1945 itu berharap pengelolaan kelapa sawit digarap dengan bersungguh-sungguh dan berhati-hati. Bahkan juga dalam mengembangkan konsep pengelolaan tadi. Karena dia tak mau petani dijadikan alat untuk mengkritik keberlangsungan perkebunan sawit di Indonesia.

"Kebijakan pemerintah sudah komplit, namun jangan cepat puas karena ada upaya hilirisasi sesuai pernyataan Presiden yang luar biasa. Jika ini terpenuhi yakni ekpor barang jadi atau setengah jadi tentu Indonesia akan semakin harum di dunia internasional. Malah kita bisa menguasai pasar, jika kamu gak mau import ya kami pakai sendiri. Inilah negara berdaulat," jelasnya. (MCR)

Berita Terkait

Ekbis

Kepsek SMAN Plus Riau Ingatkan Calon Peserta Didik Lulus SPMB Daftar Ulang Ulang 8-10 Mei 2026

Ekbis

Tim Pelatnas Taekwondo Indonesia Sabet 4 Medali di British Taekwondo International Open 2026 Manchester, Inggris

Ekbis

Ketua DPD PKS Kampar Titip Doa untuk Kemajuan Daerah Kepada Jamaah Haji

Ekbis

PSPS Pekanbaru Tundukkan Sumsel United 2-0

Ekbis

Ini 13 Sapi Jumbo yang Diusulkan untuk Bantuan Presiden Iduladha 1447 H di Riau

Ekbis

Aniaya Korban Hingga Babak Belur, Komplotan Debt Collector di Pekanbaru Diringkus