Wow, Ternyata Minyak Nabati Kelapa Sawit Lebih Efisien 10 Kali Lipat, Ini Faktanya!

Harijal - Minggu, 05 September 2021 20:06 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2021/09/0ff352092021_untitled6.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Foto: INHABITAT.COM
Buah Kelapa Sawit dan minyak yang dihasilkan (ilustrasi)

PEKANBARU - Kelapa sawit merupakan komoditi unggulan di Riau. Tentu dengan luasnya lahan perkebunan kelapa sawit di Riau berpengaruh dengan percepatan ekonomi meski di masa pandemi COVID-19. Terlebih harga tandan buah segar (TBS) saat ini masih cukup tinggi.

Harga TBS itu dipengaruhi harga jual CPO baik domestik maupun di manca negara. Malah saat ini Riau juga menjadi provinsi pengekspor CPO hingga mancanegara.

Ternyata, permintaan CPO yang tinggi tadi salah satunya dipengaruhi lantaran CPO merupakan minyak nabati terbaik dan paling efisien.

Seperti diungkapkan Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Riau, Ir H Rahmen. Ia mengatakan dibandingkan dengan minyak nabati lain, seperti kedelai, jagung, bunga matahari, zaitun dan sebagainya, minyak nabati dari kelapa sawit lebih efisien.

"Jika dibandingkan dengan minyak nabati dari kedelai saja, minyak nabati kelapa sawit lebih efisien hingga 10 kali lipat," katanya saat menjadi narasumber di Poadcast "Haidir Tanjing" Diskominfo Riau beberapa waktu lalu.

Menurutnya, inilah salah satu faktor permintaan CPO dunia saat ini masih cukup tinggi. Kata Rahmen, tingginya permintaan itu tentu akan berpengaruh dengan perekonomian daerah penghasil CPO seperti Riau.

"Untuk itu penting rasanya untuk menjaga produktifitas, peningkatan mutu, dan peningkatan hasil perkebunan tanpa harus menambah luasan area. Jadi, kita memaksimalkan yang ada jika tidak memungkinkan untuk penambahan area tadi," katanya.

Menurutnya, saat ini masyarakat Riau sudah cukup menyadari potensi sawit di Bumi Lancang Kuning. Ini terbukti sudah mulai banyak bermunculan petani sawit. Bahkan juga dari koorporasi dan pemerintah.

"Misalnya dari sisi infrastruktur. Saat ini pemerintah sudah getol memperbaiki infrastruktur yang bertujuan untuk memperlancar ekspedisi. Khususnya hasil perkebunan," paparnya.

Selain itu, adanya program "Rencana Aksi Daerah Sawit Berkelanjutan" juga dinilai wujud kesadaran pemerintah akan perkebunan kelapa sawit. 

"Ini pemerintah tau bahwa sawit tidak hanya sampai di sini. Ini iuga bentuk perhatian terhadap perkebunan kelapa sawit," katanya.(MCR)

Berita Terkait

Ekbis

Jarak Pandang 2,2-2,7 Kilometer, Penerbangan SSK II Pekanbaru Normal

Ekbis

Percepat Penanganan Karhutla, Hari Ini TNI Turunkan Satgas Khusus ke Riau

Ekbis

Siswa PAUD, SD dan SMP di Pekanbaru Belajar dari Rumah, Wako: Keselamatan dan Kesehatan Anak Pertimbangan Utama

Ekbis

Akibat Asap Karhutla Siswa Pekanbaru Belajar Daring, MBG Tetap Jalan

Ekbis

Akibat Asap Karhutla, Hari Ini Siswa Pekanbaru Laksanakan Pembelajaran dari Rumah

Ekbis

PT Oscar Investama dan Ketua Koperasi Diduga Bermain, Skema Bagi Hasil Diubah Sepihak