Morgan Stanley Sebut Corona Picu Resesi Global Besar

Harijal - Selasa, 17 Maret 2020 17:44 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2020/03/f0994a032020_untitled16.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Foto: Morgan Stanley (REUTERS)

JAKARTA - Morgan Stanley merevisi targetnya sendiri untuk pertumbuhan perekonomian global 2020 menjadi 2,1% year on year (YoY) atau dengan kata lain bisa diartikan, resesi global besar. Angka ini turun dari prediksi sebelumnya yang sebesar 2,3% YoY.

Turunnya prediksi ini disebabkan karena adanya peningkatan lebih lanjut dalam kasus COVID-19 dan telah mengganggu ekonomi global dan dengan cepat dan juga menyebabkan dislokasi di pasar keuangan.

"Banyak negara di dunia mengalami pengetatan keuangan, termasuk Amerika dan banyak negara lainnya di dunia. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah di semua negara," tulis Morgan Stanley dalam riset yang berjudul "The Need of The Hour"yang disusun Chetan Ahya, Derrick Y Kam, Nora Wassermann, dan Frank Zhao.

Untuk itu, dibutuhkan respon cepat dari berbagai pihak seperti otoritas kesehatan publik, moneter, dan fiskal terkait beberapa hal, antara lain peningkatan signifikan dari pengujian virus serta langkah-langkah mitigasi, terutama di AS. Karena dengan demikian akan memberikan kejelasan lebih akan perluasan sebaran virus.

Selain itu juga dibutuhkan respons moneter, khususnya ekspansi neraca Bank Sentral, akan sangat penting untuk mencairkan pasar keuangan. Selain itu pelonggaran fiskal juga dibutuhkan dan diyakini dapat memainkan peran konstruktif dalam penurunan tingkat perekonomian.

Pelonggaran fiskal ini juga dibutuhkan untuk mengelola beban pada sistem kesehatan, sehingga akan meringankan sektor yang terdampak serta memberikan stimulus pada permintaan untuk mendukung pertumbuhan global.

"Melihat dari perspektif yang lebih luas, benturan pada pertumbuhan global yang diakibatkan COVID-19 ini telah mendorong masalah struktural seperti kondisi hutang, demografi, dan perlambatan pertumbuhan inflasi menjadi semakin nyata," tulis laporan Morgan Stanley, dikutip Selasa (17/3/2020).

Dalam beberapa dekade terakhir, beberapa siklus pemulihan akibat pelonggaran kebijakan moneter telah terjadi meski masalah struktural yang mendasari masih terus membayangi

"Saat ini, kita berada pada tahap dimana dukungan kebijakan moneter dan pemulihan mini siklus yang bermakna cukup terbatas karena Bank Sentral terus menggunakan alat kebijakan moneter mereka untuk mengelola siklus mini dan membendung faktor penurunan alami. Oleh karena itu, dengan latar belakang siklus dan tantangan struktural ini, kebijakan fiskal harus secara aktif digunakan untuk mengatasi pertumbuhan inflasi yang rendah."

(CNBCIndonesia.com)

Berita Terkait

Ekbis

Bupati Herman Pimpin Upacara Peringatan Hardiknas 2026

Ekbis

Selain Meta, Anggota DPR Hendry Munief Minta Kemenekraf Gandeng Aplikator lainnya

Ekbis

Perampokan Berujung Pembunuhan Sadis, Polisi Ungkap Motif Kematian Lansia yang Viral di Pekanbaru

Ekbis

Hardiknas 2026, Kepala UPT SDN 019 Pandau Jaya Tekankan 3M untuk Kemajuan Pendidikan

Ekbis

UPT SMP Negeri 1 Bangkinang Kota Gelar Upacara Hardiknas 2026

Ekbis

Sambut HPN dan HUT PWI ke-80, PWI Riau Undang Wartawan dan Warga Ikut Donor Darah