Potang Balimau di Petapahan, Tradisi Menyambut Ramadhan

Harijal - Rabu, 16 Mei 2018 21:33 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2018/05/949616052018_0000aaimg20180516wa0056.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
raf/kabarmelayu.com

KAMPAR, kabarmelayu.com - Hampir di seluruh desa yang ada Kabupaten Kampar merayakan datangnya bulan suci Ramadhan dengan tradisi Mandi Balimau atau Balimau Kasai pada sore hari ini, Rabu (16/5).

Tradisi Mandi Balimau atau Balimau Kasai ini sudah melekat di masyarakat Kampar dan diadakan tiap tahun dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Acara Mandi Balimau atau Balimau Kasai ini biasanya melibatkan alim ulama, tokoh masyarakat dan tokoh adat, seperti Ninik Mamak dan pejabat daerah atau desa dan lainnya.

Sebutan Mandi Balimau atau Balimau Kasai itu itupun berbeda di tiap daerah, seperti di desa Petapahan kabupaten Kampar, Mandi Balimau atau Balimau Kasai disebut dengan Potang Balimau.

Pada acara Potang Balimau di desa Petapahan kabupaten Kampar, selain menggelar acara Mandi Balimau, masyarakat desa petapahan juga menggelar berbagai kesenian daerah setempat, seperti mengarak Ninik Mamak ke rumah Godang yang diiringi dengan Gobano (alat musik semacam rabana), lalu menyambut Ninik Mamak dengan mempersembahkan pencak silat, serta makan bejambagh di rumah Godang.

Dalam menjaga adat dan kesopanan masyarakat desa petapahan mengadakan acara Mandi Balimau dengan memisahkan tempat mandi antara kaum Adam dan Hawa, dimana pria mandi ditempat terpisah dengan tempat mandi perempuan dalam pelaksanaan Mandi Balimau tersebut.

Datuk Dubalang suku Domo Petapahan, Amir Hamzah menyebutkan untuk menjaga adat dan kesopanan perlu kita pisahkan tempat mandi antara laki-laki dan perempuan.

"Kalau bercampur tempat mandi laki-laki dan perempuan itu tentu tak baik dilihat, baik secara adat maupun agama, mereka yang mandi khan tak semuanya muhrim", papar Amir Hamzah.

Amir juga menambahkan, terkadang acara Mandi Balimau sering disalah artikan dan dimanfaatkan sebagian besar anak muda buat melakukan hal-hal negatif, misalnya mandi bersama pacarnya, dan ini tentunya dapat menodai kesucian hati dalam menyambut Ramadhan.

"Kalau tak dipisahkan kadang anak-anak muda ni mandinya sama pacar mereka, padahal kita Mandi Belimau tu untuk membersihkan raga dan hati kita untuk menyambut puasa", tambahnya.

Hal senada juga disampaikan Musytadir, salah seorang warga desa petapahan, ia merasa bangga dengan adat di desanya yang memberlakukan cara Mandi Balimau dengan memisahkan tempat mandi antara laki-laki dan perempuan tersebut.

"Setidaknya terhindar dari dosa zina mata bang, karna ditempat mandi laki-laki tidak ada satupun perempuan, dan ditempat mandi perempuan juga tidak ada satupun laki-laki, dan inilah yang disebut ber adat dan ber adab itu bang", ujar Musytadir.

Antusias warga yang mengikuti acara sangat luar biasa, terlihat saat melakukan sholat Dzuhur, membludaknya jamaah mesjid mengakibatkan sholat Dzuhur dilaksanakan dua kali hal ini mebuktikan banyaknya warga yang mengikuti acara tersebut.(Raf)

Berita Terkait

Budaya

Personel PJR Polda Riau Evakuasi Korban Laka di Tol Permai

Budaya

Bupati Inhil Sampaikan Tanggapan atas Pandangan Fraksi Terkait Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025

Budaya

PSPS Pekanbaru Lakukan Perombakan Besar Jelang Musim 2026-2027

Budaya

Pompong Tenggelam di Pelabuhan Tanjung Buton, Tiga Penumpang Masih Hilang

Budaya

Kapolda Riau Jenguk Korban Pengeroyokan, Tegaskan Kasus Diusut Tuntas Tanpa Pandang Bulu

Budaya

Polsek Kandis Sukseskan Panen Jagung di Kampung Sam-Sam