'Pulang Beibu' Khazanah Budaya Masyarakat Rantaubaru

Harijal - Kamis, 22 Juni 2023 19:09 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2023/06/307b20062023_untitled6.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
istimewa

TAK lekang dek panas, tak lapuk dek hujan begitulah kehidupan masyarakat adat di Rantaubaru. Jika ingin selamat di rantau, carilah dulu sanak saudara atau induk semang.

Kedua pepatah tua ini begitu melekat di tengah kehidupan masyarakat Desa Rantaubaru, Kabupaten Pelalawan. Prosesi penabalan Datuk pucuk yang merupakan petinggi adat dan pulang Beibu dilaksanakan dalam bentuk rangkaian kegiatan.

Giat adat yang dilaksanakan sempena penobatan Datuk Sati Diraja yang akan dilaksanakan besok, Rabu (21/6/2026). Di mana, Wahyu Ari Sandi ST yang notabene bukan anak jati Rantaubaru diangkat menjadi bagian dari masyarakat daerah setempat. Prosesi adat pun dilaksanakan Selasa (19/6/2023) malam di kediaman ughang sumondo (orang sumando).

Prosesi dimulai dengan makan sirih yang disuguhkan urang sumando kehadapan para tetua adat dengan menyodorkan tepak sirih yang berisi pinang, sirih dan lainnya.

Usai makan sirih, hajat pun disampaikan urang sumando. Bahwasannya anak Godhang pulang keinduk atau Beibu di bawah payung Rajo Sindo.

Usai para Datuk dan batin mengamini hajat tersebut, kepada Datuk Rajo diminta untuk langsung membawa Ari memperkenalkan sanak keluarganya serta anak kemenakan yang hadir malam itu.

Setelah prosesi pengenalan, Datuk Engku Rajo Lela Putra dalam sambutannya mengatakan, ini adalah proses adat yang harus menjadi teladan, terutama dalam hal tata krama.

Dulu, kata Datuk Engku Rajo Lelo, prosesi adat pulang Beibu tertata dengan sangat rapi dan baik. Tapi sekarang kesakralannya dirasa kurang.

"Saya lihat tadi masih kurang tertata. Mamak sama mamak saling tunjuk, cara menghadap Datuk pun kurang pas," ucapnya.

Dia juga mengkritisi soal proses pulang Beibu yang kurang dalam pelaksanaannya. Tata cara itu harus rapi dan terstruktur. Untuk itu, dia berharap kedepan masalah-masalah sakral seperti ini harus lebih baik lagi kedepannya.

"Ada kesopanan tempat dia menghadap orang. Ini harus ditingkatkan ke depan. Karena prosesi adat istiadat di daerah ini harus menjadi contoh untuk Pelalawan," pungkasnya.

Hadir dalam kesempatan itu, Ketua DPH LAMR Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, Ketua DPRD Pelalawan, Kades Rantau Baru, Batin Sibokol-bokol Datuk Sati Diraja, dan tokoh masyarakat lainnya.

Setelah memperkenalkan anak lahir ghodang kepada petinggi dan perangkat serta pihak keluarga ibu angkatnya, acara ditutup dengan makan bejambat. Makan bejambat adalah makan bersama dengan lauk pauk yang disajikan dalam piring besar atau talam. Satu jambat berisi 4 sampai 5 orang.

Suasana kekerabatan sangat kental dalam suasana makan bejambat. Tujuannya tak lain agar sesama tamu bisa saling kenal dan semakin akrab dengan warga Kampung Rantaubaru. (*)

Berita Terkait

Budaya

Bupati Inhil Sampaikan Tanggapan atas Pandangan Fraksi Terkait Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025

Budaya

PSPS Pekanbaru Lakukan Perombakan Besar Jelang Musim 2026-2027

Budaya

Pompong Tenggelam di Pelabuhan Tanjung Buton, Tiga Penumpang Masih Hilang

Budaya

Kapolda Riau Jenguk Korban Pengeroyokan, Tegaskan Kasus Diusut Tuntas Tanpa Pandang Bulu

Budaya

Polsek Kandis Sukseskan Panen Jagung di Kampung Sam-Sam

Budaya

Progres 50 persen, Pemasangan Sling Atas Jembatan Gantung Garuda Bangko Pusaka-Menggala Sakti Dikebut