Masyarakat Rantaubaru Lestarikan Permainan Rakyat Sebagai Kearifan Lokal

Harijal - Kamis, 22 Juni 2023 18:31 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2023/06/d276ef062023_untitled1.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
istimewa
Anak-anak desa Rantaubaru piawai bermain gasing

RANTAUBARU, kabarmelayu.com - Derasnya pengaruh teknologi telah mempengaruhi pola kehidupan masyarakat di negeri ini. Tak hanya kaula muda, anak-anak usia dini kini sangat akrab dengan teknologi informasi dan gadget. Akibatnya, banyak tradisi dan permainan rakyat yang ditinggalkan dan terlupakan. 

Upaya melestarikan kearifan lokal dan tradisi budaya semakin tergerus zaman, termasuk masyarakat Desa Rantaubaru, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Riau. 

Beruntungnya masih ada sebagian anak-anak remaja dari desa Rantaubaru yang masih mempertahan tradisi permainan rakyat yang dulu populer di masa nenek moyang mereka.

Khairuman, selaku Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Rantaubaru mengatakan, ada beberapa permainan rakyat yang kini masih dipertahankan dalam kehidupan masyarakat adat Rantaubaru. Diantaranya, permainan Gasing, engkek, main Tali, main Ucak, dan lainnya.

"Tak bisa dipungkiri, arus jaman dan teknologi sedikit demi sedikit telah menggerus peradaban masyarakat. Permainan rakyat tergencet gadget yang kini digandrungi anak-anak. Makanya, agar permainan rakyat ini tidak hilang, kita berupaya untuk membuat perlombaan-perlombaan agar kelestarian kearifan lokal terus terjaga," ujarnya.

Sementara, Datuk Sati Diraja Rantaubaru DR H Griven H Putra MAg mengatakan akan berupaya untuk melestarikan permainan tradisional dan tradisi budaya yang kini mulai menghilang. 

"Permainan tradisional ini jangan sampai hilang ditelan jaman, karena itu ke depan kita akan buatkan perlombaannya secara rutin antar kelompok suku, maupun festival yang terbuka bagi masyarakat luar desa," kata Datuk Griven. 

Selain permainan tradisional, ia juga akan menggelar kajian budaya secara rutin agar masyarakat Desa Rantaubaru tetap dapat melestarikan nilai-nilai budaya yang ada. 

"Akan kita gelar kajian bulanan terkait soal adat dan syarak di negeri ini. Ini sangat penting, agar masyarakat mengetahui secara luas tentang adat dan syarak. Jangan sampai masyarakat hanya menerima sanksi, sementara mereka tidak diberitahu sebelumnya. Soal permainan rakyat, kita akan berupaya membuat iven-iven agar masyarakat termotivasi untuk menggalakkan kembali permainan tradisional," tukas Griven. 

Berikut beberapa permainan rakyat yang semoat disaksikan sejumlah wartawan yang berkunjung ke Desa Rantaubaru, Selasa (20/62023) lalu : 

Lempar Gasing Gasing merupakan permainan tradisional yang terdapat di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk di Desa Rantau Baru. Permainan tradisional ini tidak hanya dimainkan oleh anak-anak, tapi juga dilakukan orang dewasa. Bahkan permainan ini juga ada dilombakan oleh beberapa daerah. 

Biasanya, perlombaan gasing ini mengadu siapa yang paling lama berputar. Siapa yang paling lama, gasing itulah yang keluar sebagai pemenang. Tapi ada juga penentuan pemenang dengan mengadu gasing. 

Sebagaimana diketahui, Gasing yang terbuat dari kayu ini merupakan permainan yang berputar pada porosnya serta memiliki keseimbangan pada satu titik. Gasing ini berbentuk bulat dan lancip, lalu dililitkan tali di kepala gasing supaya bisa dilepas dan berputar lebih kencang. 

Gasing ini dibuat menggunakan kayu pilihan, yakni kayu keras dan kuat. Oleh masyarakat Rantau Baru, kayu yang digunakan adalah jenis Sebangko. Kayu ini sulit di dapat. Tapi di Kabupaten Pelalawan kayu Sebangko masih ada tumbuh di Kecamatan Langgam dan Sei Kijang. 

Kayu Sebangko ini dikenal sangat keras dan tida bisa diolah menjadi papan. Oleh masyarakat biasanya digunakan sebagai alas untuk menggelindingkan kayu yang sudah ditebang. 

Kedagho Lain lagi dengan permainan yang satu ini. Dimana permainan harus dimainkan secara tim yang jumlah masing-masing tim bisa mencapai 3 sampai 5 orang. 

Adapun sarana yang digunakan adalah tempurung kelapa. Cara mainnya, dua tim saling melempar tempurung dengan menggunakan tumit. Dimana tempurung tersebut diletakkan dalam jarak yang sudah disepakati. 

Untuk menentukan siapa yang menang jika tempurung yang dilempar tidak mengenai tempurung kawan yang diletakkan tersebut. Jika kena, maka dinyatakan kalah. 

Bagi yang menang akan digendong oleh lawannya. Jaraknya sesuai dengan jarak lempar tempurung tadi. Disinilah kegembiraan itu tercipta. Yang menang akan tertawa-tawa bahagia karena digendong. 

Ucak Tarason Permainan rakyat yang satu ini lebih seru dan menarik lagi. Dimana masing-masing pemain yang dibagi dalam 2 tim saling berlomba untuk mengalahkan lawannya. Sarana yang digunakan sandal sebagai Ucak, dan kotak tarason sebagai sasaran lemparan. 

Cara mainnya, Kotak tarason diletakkan dalam garis kotak segi empat. Dan salah satu tim berperan sebagai pelempar pertama. Jika tarason yang dilempar kena dan keluar kotak, maka rekan-rekan lainnya berupaya untuk memasukkan kembali ke dalam kotak. Jika masuk, maka mereka akan keluar sebagai pemenang. 

Sementara, jika kotak tarason tersebut tidak masuk, maka lawannya akan melempar kotak tersebut dan berupaya menjauhkannya dari kotak. 

Main tali (rotan) Sama dengan daerah lain, masyarakat Rantaubaru juga sangat familiar dengan permainan tali. Hanya saja, jika di daerah lain bahan talinya dari karet gelang yang dijalin, tapi kalau di Rantaubaru bahannya dari rotan yang sudah disangai (dipanaskan) tujuannya agar rotan yang digunakan sebagai tali menjadi lentur. Panjang rotan yang digunakan sekitar 4-5 meter. 

Cara bermainnya lebih praktis lagi. Dua orang saling berhadapan memegang ujung rotan. Kemudian rotan diayun. Mulai dari gerakan lambat sampai cepat. 

Kemudian, rekan lainnya masuk dalam ayunan rotan yang diputar tersebut dan melompat agar tidak terkena yang menyebabkan permainan terhenti. Sang penganyun rotan terus memutar tali, makin lama makin kencang. Inilah yang harus diimbangi oleh mereka yang melompat tadi. Ia secara otomatis akan mengikuti dan mengimbangi ayunan tali tersebut. 

Bagi yang menyebabkan terhentinya ayunan rotan akan keluar dan diganti oleh yang lain. Permainan ini tidak adanya didominasi oleh kaum emak-emak, tapi juga dilakukan oleh kaum Adam. Manfaat dari permainan ini adalah kebugaran badan karena gerakan yang menguras keringat.(*)

Berita Terkait

Budaya

Lagi, 150 PMI Bermasalah Dideportasi dari Malaysia

Budaya

Tekan Kemiskinan dan Stunting, Wali Kota Agung Terima Penghargaan

Budaya

DPD PKS Kampar Apresiasi Turnamen Mini Soccer Kerjasama PWI Kampar dan Anggota Legislatif PKS

Budaya

Terpilih Aklamasi, Achmad Faisal Reza Ketua Umum KONI Pekanbaru 2026-2030

Budaya

Empat Bulan Puluhan Kejadian, Warga Pekanbaru Diimbau Waspada Kebakaran

Budaya

Suara Panipahan, Alarm Keras Perang Melawan Narkoba