Suatu Keniscayaan, Mulok Budaya Melayu di Sekolah

Harijal - Selasa, 21 Juli 2020 08:45 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2020/07/b281d3072020_untitled40.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
istimewa

PEKANBARU - Pendidikan Budaya Melayu Riau (BMR) di sekolah merupakan suatu keniscayaan. Bukan hanya karena menjawab tantangan, tetapi juga melaksanakan amanah sebagai anak bangsa yang bersumbu pada kekuatan di daerah. Tidak ada alasan yang signifikan untuk mengabaikan pendidikan BMR itu.

Demikian benang hijau dari Webinar Pendidikan Budaya Melayu di Sekolah yang dilaksanakan Narawita Swarna Persada, Senin (20/7/2020). Diikuti sekitar 450 peserta, seminar tersebut menampilkan tiga pembicara yakni Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau (Ketum MKA LAMR) Datuk Seri H. Al azhar, Pengawas Madya Dinas Pendidikan Riau sekaligus mewakili Dinas Pendidikan Riau Drs Joyosman MM, dan budayawan Taufik Ikram Jamil. 

Datuk Seri Al azhar mengatakan, pelaksanaan BMR merupakan salah satu upaya menghadapi globalisasi yang tak bisa dan tak perlu dielak. Setiap insan disuguhkan keberadaan dirinya untuk bersama-sama dengan pihak lain berupaya memuliakan sesama manusia. Lembaga pendidkan, tentu saja merupakan sisi utama untuk menyalurkan pewarisan keberadaan pemuliaan terhadap manusia itu sendiri.

Taufik Ikram Jamil menambahkan, kenyataan tersebut makin nyata manakala diketahui berbagai kalangan menyebutkan bahwa abad ke-21 ini adalah abad agama dan tradisi. Di sisi lain, gempuran teknologi informasi, bisa menyebabkan kebudayaan suatu kawasan tergilas. Untuk itu perlu dijawab dengan pewarisan agar penggilasan itu tidak terjadi, apalagi tunjuk ajar Melayun memang mewajibkan tindakan pewarisan tersebut.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” kata Joyosman menimpali. Dengan kesadaran serupa, lanjutnya, Dinas Pendidkan dan LAMR telah berusaha dengan berbagai cara mewujudkan mulok di sekolah. Segala perangkatnya yang menjadi wewenang daerah seperti payung hukum dan kurikulum telah disediakan sejak setahun terakhir.

Menjawab pertanyaan peserta, seminar yang dipandu Syaiful Anuar, S.Pd, M.Pd itu, Joyosman mengatakan bahwa mewujudkan BMR dalam data pokok pendididikan memang tidak mudah.  Misalnya, harus ada perguruan tinggi yang melahirkan tenaga pendidikan mulok BMR. Tapi ini bisa dilaksanakan karena kita memiliki beberapa perguruan tinggi yang dapat digesa untuk itu.

Narawita Swarna Persada adalah penerbit buku-buku Riau yang dikelola oleh putera tempatan. Direkturnya, Masrinur, S.Pdi mengatakan, acara yang dihelat adalah sebagai media untuk membumikan budaya Melayu di Riau. “Kekuatan kebudayaan di masa mendatang, bergantung pada upaya-upaya yang kita lakukan kemarin dan hari ini,” ujarnya yang didampingi Ketua Panitia Syaiful Anuar, S.Pd., M.Pd. (MCR)

Berita Terkait

Budaya

Pengamat: Sengketa F-SPTI Bengkalis Cukup Mengacu Putusan PN Jakarta Timur

Budaya

Bedah Status Hukum Etomidate Bersama Kepala BNNK Pekanbaru, Penandatanganan MoU, dan Deklarasi Mahasiswa

Budaya

Delapan Pendulang Emas Tewas di Korowai Yahukimo, Koops TNI Habema Siapkan Evakuasi dan Kejar Pelaku

Budaya

Riau Bhayangkara Run 2026 Dihadiri Artis Ibu Kota, Ada Charly Van Houten hingga Ndarboy

Budaya

Kemnaker Kembali Raih Penghargaan Nasional Pengawasan Kearsipan dengan Kategori Sangat Memuaskan dan SJTN 2026

Budaya

Rutin, Bhabinkamtibmas Polsek Kandis Tinjau Perkembangan Tanaman Jagung untuk Ketahanan Pangan