kabarmelayu.comPagi itu, di aula Balai Desa Lambang sari V kecamatan Lirik tidak seperti biasanya.
Bagian depan, ada sebuah spanduk bertuliskan"Launching Bank Sampah Delima & Pelatihan Pengolahan Sampah terpampang dengan mencolok.
Hari itu adalah hari peluncuran resmi program yang sudah, dirancang oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati Desa Lambang Sari V, Kecamatan Lirik dan Kepala desa.
Community Development Officer (CDO) Pertamina EP Lirik, Dela Ayu Puspita Dewi, menjelaskan bahwa pengembangan ProKlim berawal dari permintaan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Inhu untuk mencari desa yang berpotensi menjadi lokasi program.
"Dalam menjalankan Program Pemberdayaan Masyarakat, Pertamina EP Lirik Field selalu menghitung outcome dari program tersebut. Berdasarkan data yang ada, pelaksanaan ProKlim di Desa Lambang Sari V menorehkan hasil positif," ujar Dela.
Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Inhu, Elpadri Adha, Pertamina menjadi bapak angkat agar berkelanjutan supaya masyarakat lambang sari V bisa menjadi panutan untuk desa lainnya.
Matahari meninggi, namun semangat di aula balai desa tidak surut. Hari itu, Desa Lambang Sari V resmi membuka babak baru menuju desa yang mandiri, bersih, dan sejahtera dari hal yang paling sering diabaikan: sampah mereka sendiri.
Kepala Desa Lambang Sari V Syafrizal, memberikan sambutan dengan menekankan pentingnya standarisasi kompetensi. "Sebuah institusi lingkungan tidak akan dapat bertahan lama jika dikelola tanpa manajemen yang profesional.
Pelatihan hari ini adalah instrumen penting untuk menyamakan persepsi, menguasai metode pemilahan, " tegas beliau di hadapan puluhan peserta yang hadir.
Slogan kami nantinya adalah sampah plastik jadi cuan bagi setiap keluarga. Dengan semangat ibu-ibu dan dukungan penuh dari Pertamina EP Lirik, kami optimistis kampung ini dapat menjadi kawasan wisata yang bersih dan bebas dari sampah plastik,"ujar Syafrizal.
Manager Pertamina EP Lirik Field, Luqman Arif, "Program bank sampah ini merupakan gagasan ibu-ibu KWT Melati. Sebagai wujud dukungan, Pertamina EP Lirik memberikan bantuan peralatan pencacah sampah kering, tong sampah, dan sarana prasarana pendukung lainnya,"ujarnya.
Klasifikasi dan Kodifikasi LimbahKlasifikasi dan kodifikasi limbah domestik, telah disiapkan berbagai sampel material sampah kering.
Di situ ibuk-ibuk didatangkan penyuluh atau instruktur untuk mwngadakan pelatihan . Ibu-ibu KWT Melati sangat antusias mendengarkan pelatiahan itu.Ibu sekalian, kesalahan fatal yang sering terjadi adalah menggeneralisasi semua jenis plastik," ujar penyuluh.
Polyethylene Terephthalate (PET) yang bernilai ekonomis tinggi seperti botol air mineral ini, dengan jenis High-Density Polyethylene (HDPE) seperti botol sampo. Harganya di industri daur ulang sangat berbeda. Tugas kita sebagai pengurus adalah menguasai kode-kode ini agar tidak terjadi kesalahan valuasi saat penimbangan."
Memasuki sesi kedua beralih pada aspek yang tidak kalah krusial. Ibuk- ibu KWT melati melihatkan hasil olahan ubi kayu menjadi keripik yang gurih.Kelompok ini kemudian mendapatkan apresiasi dari kepala desa, Kemudian meminjamkan kebun milik desa untuk menanam berbagai jenis tanaman termasuk ubi. Bibit ubi yang ditanam sekarang langsung didatangkan dari kota Dumai," ujar Yayuk.
KWT Melati yang beranggotakan 13 orang,kini mengandalkan kebun ubi kayu sebagai salah satu sumber penghasilan kelompok. Di atas lahan sekitar setengah hektare, mereka berusaha mengembangkan usaha pertanian sekaligus mencari peluang ekonomi baru bagi keluarga.
Dalam satu kali produksi, kelompok membutuhkan sekitar 100 kilogram ubi kayu. Usaha ini memberikan tambahan penghasilan bagi anggota. Keuntungan bersih yang diperoleh sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp2,5 juta per bulan. Angka tersebut dapat meningkat hingga Rp5 juta ketika Ramadan atau saat mengikuti bazar UMKM.
Keripik ubi kayu hasil produksi KWT Melati kini hadir dalam kemasan bermerek Ibu. Tersedia dalam tiga variasi rasa, yakni manis, gurih, dan pedas. Produk tersebut menjadi bukti upaya anggota kelompok dalam meningkatkan nilai jual hasil kebun, yang sebelumnya hanya dipasarkan dalam bentuk ubi mentah.
Kedepannya, KWT Melati masih akan terus mengembangkan produk olahan lain dengan berbahan dasar singkong, serta komoditas lokal lainnya yang mungkin belum diangkat.(rio)