kabarmelayu.comSUARA mesin terdengar sangat tidak bersahabat ditelinga, suara itu jelas sekali terdengar dari sebuah pondok kayu yang tepat berada didepan
kolam-
kolam lele.
Para bapak-bapak ada yang menyandar di dinding kayu pondok sambil melihat-lihat proses pembuatan pakan dan sebagian lagi sibuk memasukan bahan-bahan kedalam mesin untuk dijadikan pakan ternak lele yang nantinya akan menjadi pelet.
Dari mesin berkapasitas 100 kilogram per jam ini, bahan baku yang sebelumnya kurang dimanfaatkan seperti dedak padi lokal, tepung ikan rucah dan racikan probiotik diproses menjadi pelet.
Kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Mekar Mulia desa Gading Sari, kecamatan Tapung kabupaten Kampar, pakan bukan sekadar kebutuhan agar ikan tumbuh. Harga pakan pabrikan yang terus menjadi beban mendorong kelompok mencari jalan lain.
Dukungan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) WK Rokan melalui program community Involvement and Development (CID) membuka lebar jalan bagi kelompok ini. Dua buah mesin pembuat pakan kini sangat membantukelompok mengolah bahan lokal menjadi pelet untuk memenuhi kebutuhan puluhan kolam lele saat ini.
Persoalan pakan bukan menjadi hal yang baru bagi kelompok yang beranggotakan 10 orang tersebut. Seiring berjalan bertambahnya
kolam ikan, kebutuhan pakan terus meningkat dari lima
kolam saat awal merintis, kini jumlahnya berkembang menjadi 50
kolam dengan berbagai ukuran.
Untuk memenuhi kebutuhan ikan, diperkirakan membutuhkan sekitar 60 kilogram pelet disetiap harinya. Sebanyak 30 kilogram diberikan pada pagi hari dan jumlah yang sama pada sore hari.
" Sugiharto" menyebutkan penggunaan mesin bantuan dari PHR mampu menekan anggaran biaya pakan hingga 70 persen. Berdasarkan hitungan kelompok(Pokdakan) penghematan dari produksi pakan mandiri diperkirakan mencapai sekitar Rp. 12 juta per tahun.Angka tersebut menjadi alasan bagi kelompok untuk terus mengembangkan kemampuan membuat pakan sendiri.
Bantuan yang diharapkan Berujung MandiriBantuan dua mesin pembuat pakan tersebut merupakan bagian dari dukungan PHR WK Rokan melalui program CID, selain mesin PHR juga memberikan 30 ribu benih ikan lele dan bahan baku pakan 500 kilogram.
Lidya Sari, CID Officer PHR WK Rokan, mengatakan perusahaan terlebih dahulu melakukan verifikasi lapangan pada tahun 2025 sebelum program perikanan tersebut dimulai awal tahun 2026.Dari hasil diskusi kelompok , persoalan yang timbul karena mahalnya pakan yang menjadi pokok yang sangat perlu mendapat perhatian.
Menurut Lidya bantuan ini tidak membuat kelompok terus bergantung kepada perusahaan, sebaliknya kelompok ini mampu mengembangkan usaha dengan kemampuan yang telah dimiliki.
Kedepan PHR juga melihat kemungkingnan soal pengembangan pembibitan ikan, namun hal tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam pembenihan bibit. Harapan tersebut sejalan dengan keinginan kelompok untuk menjaga agar usaha tetap berjalan meski bantuan meski bantuan dari perusahaan nantinya berakhir.
Menggerakan Ekonomi dari Usaha Budi Daya Ikan Lele Saat ikan dipanen dan akan dipasarkan, masyarakat tempatan juga ikut terlibat dalam proses pembersihan dan pernyotiran ikan. Sejumlah ibu rumah tangga mendapat kesempatan memperoleh tambahan penghasilan dari pekerjaan tersebut.
"Kalau ikan akan akan dikirim ke dapur Makan Bergizi Gratis, ibu-ibu kita pekerjakan untuk membersihkan ikan dan Alhamdulillah, bisa menambah uang belanja dapur," tutur Sugiharto.
Menurut Ardi Purwanto,salah seorang vendor SPPG, satu dapur memiliki kebutuhan sekitar 300-350 kilogram ikan per hari. Dalam satu minggu, pengambilan dapat dilakukan dua hingga tiga kali tergantung kebutuhan. Ikan hasil budidaya kelompok tersebut disalurkan ketujuh dapur SPPG dikecamatan Tapung.
"Kami mengambil ikan dari kelompok ini untuk SPPG yang berada di wilayah kecamatan Tapung dengan sistem pembayarannya langsung tunai" ujar Purwanto kepada media.
Permintaan tersebut menjadi peluang pokdakan Mekar Mulya untuk memperluas usaha. Bahkan, kelompok sepakat akan mengajukan pinjaman ke bank untuk memperluas areal usaha ternak lele di yang luasnya setengah hektare.
Camat Tapung Yorin Efendi mengapresiasi dukungan PHR terhadap pengembangan usaha kelompok tersebut, ia berharap budi daya lele yang berkembang di desa Gading Sari dapat menjadi contoh bagi masyarakat didesa lain. Pengembangan melalui sistem plasma berpeluang memperluas manfaat usaha kepada kelompok masyarakat lainya.
"Pada akhirnya, keberhasilan program bukan hanya diukur dari berapa banyak mesin yang diberikan atau berapa banyak benih yang ditebar. Tantangan yang sesungguhnya memastikan mesin tetap bekerja pakan terus di produksi, kolam tetap menghasikan, dan manfaat ekonomi yang telah tumbuh dapat bertahan," harapnya.(*)