UUD 1945 dan Upaya Memperkuat Visi Kebangsaan dalam Mengatasi Masalah Lingkungan serta Krisis Iklim

Redaksi - Kamis, 05 Desember 2024 18:08 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.kabarmelayu.com/uploads/images/2024/12/_3650_UUD-1945-dan-Upaya-Memperkuat-Visi-Kebangsaan-dalam-Mengatasi-Masalah-Lingkungan-serta-Krisis-Iklim.png): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 170

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u1462727/public_html/kabarmelayu.com/amp/detail.php on line 171
Foto: Arief Tito
UNIVERSITAS Paramadina mengadakan Seminar Sosialisasi Kebangsaan bertema "UUD 1945dan Upaya Memperkuat Visi Kebangsaan dalam Mengatasi Masalah Lingkungan serta Krisis Iklim". Acara ini diselenggarakan secara luring, Rabu (4/12) di Auditorium Gedung Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta.

Wakil Ketua MPR-RI, Eddy Soeparno menyoroti dominasi batubara sebagai sumber energi pembangkit listrik yang mencapai 61%. "Bauran energi baru mencapai 14%, jauh dari target 23% pada tahun 2025, yang akhirnya direvisi menjadi 19%," ungkapnya. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia kini menghadapi krisis iklim yang nyata.

Eddy mengaitkan isu ini dengan Pasal 28H ayat 1 UUD 1945 yang menjamin hak warga negara atas udara bersih dan sehat. "Kualitas udara harus menjadi perhatian, termasuk saat beraktivitas pagi" lanjutnya.

Eddy menambahkan bahwa emisi karbon terbesar berasal dari sektor transportasi, terutama kendaraan bermotor berbahan bakar RON 90. Ia mengkritisi pemberian subsidi energi yang masih dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas, sehingga kurang tepat sasaran.

Mantan Rektor Universitas Paramadina, Anies R. Baswedan yang menyempatkan diri hadir dalam seminar memberikan pandangan bahwa yang menjadi persoalan utama saat ini adalah krisis iklim, bukan lagi perubahan iklim.

"Hal ini sangat terasa di Jakarta. Sederhananya, kita harus mengurangi penggunaan sumber daya dan mengelola limbah dengan baik untuk menjaga lingkungan hidup," katanya.

Sementara, dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Ica Wulansari mengungkapkan bahwa perubahan iklim membawa risiko tinggi dengan daya dukung lingkungan yang semakin terbatas. Ia menyoroti peran struktur ekonomi-politik dalam mendorong industrialisasi tanpa memperhatikan keberlanjutan.

"Teknologi menghasilkan limbah dan pencemaran, sementara gaya hidup urban yang boros energi memperparah situasi," jelasnya.

Dampak perubahan iklim sangat dirasakan dalam sektor pertanian, seperti berkurangnya produksi akibat cuaca tidak menentu dan kekeringan ekstrim. "Diversifikasi menjadi kunci adaptasi untuk memastikan ketahanan pangan," tambahnya.

Aan Rukmana, Direktur Kemahasiswaan Universitas Paramadina menyoroti perubahan hubungan manusia dengan alam.

"Krisis iklim sebenarnya sudah lama terjadi. Sayangnya, kecerdasan kolektif yang ada di pedesaan sering kali hilang ketika masyarakat bermigrasi ke perkotaan," ungkapnya.

Ia menegaskan perlunya menghidupkan kembali nilai-nilai kolektif dalam menghadapi tantangan krisis iklim.(rief)


Tag:

Berita Terkait

Article

Sidang Lanjutan Koperasi JMB, PN Rohil Tetapkan Jadwal Mediasi

Article

Abdul Wahid Dituntut 8,5 Tahun Penjara

Article

Pastikan Keamanan Stok Beras, Menko Polkam Tinjau Gudang Bulog di Sumut

Article

Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara dan Denda Rp1 Miliar

Article

Menanti Keadilan di PN Jaksel, Praperadilan Kasus Kriminalisasi Aktivis Lharsen Yunus Dijadwalkan 14 Juli 2026

Article

Tim Supervisi Tinjau Posko Kampung Tangguh Anti Narkoba Polresta Pekanbaru